
Di sebuah jalan kampung yang ramai, hiduplah seorang anak perempuan bernama Rani. Rani dikenal suka bermain, tapi kadang kala ia kurang hati-hati. Suatu pagi, Rani sedang asyik bermain kelereng dengan teman-temannya. Ia berlari kesana kemari, tanpa melihat ke depan.
“Awas, Rani!” seru salah satu temannya. Namun, Rani tidak mendengar. Ia tak sengaja menendang sarang Ayam Jago milik Pak Tani. Telur-telur kecil berhamburan di tanah.
Ayam Jago itu berkokok marah, “Kokok! Kokok! Rani, lihat apa yang kau lakukan! Telur-telurku berantakan!” Rani terdiam, wajahnya merah padam. Ia merasa sangat bersalah. Ia tidak menyangka akan membuat Ayam Jago sedih.
Rani mendekati Ayam Jago dengan langkah pelan. “Maafkan aku, Ayam Jago. Aku tidak sengaja. Aku janji akan bantu membersihkan telur-telur ini,” ucap Rani dengan nada menyesal.
Ayam Jago menatap Rani dengan mata yang sayu. Ia melihat ketulusan di mata Rani. “Kokok… baiklah, Rani. Tapi lain kali, bermainlah dengan hati-hati ya,” jawab Ayam Jago.
Rani segera membantu Pak Tani memungut telur-telur yang berserakan. Teman-temannya juga ikut membantu. Mereka bekerja sama dengan semangat gotong royong. Pak Tani tersenyum melihat Rani dan teman-temannya yang saling membantu.
Setelah selesai, Rani menghampiri Ayam Jago lagi. “Terima kasih sudah memaafkanku, Ayam Jago. Aku janji tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi,” kata Rani.
Ayam Jago berkokok pelan, “Kokok… sama-sama, Rani. Ingat, saling memaafkan itu penting. Kita harus rukun dan saling membantu,” pesan Ayam Jago.
Rani mengangguk mengerti. Ia belajar bahwa meminta maaf itu penting, dan gotong royong membuat semua pekerjaan terasa lebih ringan. Sejak saat itu, Rani selalu bermain dengan hati-hati dan selalu siap membantu teman-temannya. Jalan kampung pun semakin ramai dan ceria, dipenuhi tawa dan kebersamaan.
Komentar
Posting Komentar