Dika dan Sawah yang Merana

Mentari pagi menyapa dengan hangat. Dika, seorang anak laki-laki berusia delapan tahun, berlari riang menuju sawah. Sawah itu milik keluarganya, dan setiap pagi, Dika selalu bermain di sana setelah membantu ibunya menyiapkan sarapan.

Hari ini, Dika membawa layang-layang baru berbentuk burung merak. Ia ingin menerbangkannya tinggi-tinggi di atas sawah. Namun, saat ia mulai bermain, Dika tidak sengaja menginjak tanaman padi yang baru tumbuh. Beberapa bibit padi itu patah dan rebah.

“Aduh!” seru Dika kaget. Ia melihat tanaman padi yang rusak itu dengan sedih. Ibunya sering mengingatkannya untuk menjaga tanaman padi, karena tanaman itu akan menghasilkan beras yang mereka makan setiap hari. “Jangan menginjak-injak tanaman, Dika. Mereka butuh tumbuh dengan baik,” kata ibunya.

Dika merasa bersalah. Ia tahu, ia telah melakukan kesalahan. Ia duduk di tepi sawah, menunduk malu. Tiba-tiba, ia melihat Pak Tani, tetangga mereka, sedang memeriksa tanaman padi. Dika memberanikan diri menghampiri Pak Tani.

“Pak Tani, maafkan Dika. Dika tidak sengaja menginjak tanaman padi,” kata Dika dengan suara pelan.

Pak Tani tersenyum ramah. “Tidak apa-apa, Dika. Semua orang pernah melakukan kesalahan. Yang penting, kamu sadar dan mau meminta maaf. Sekarang, bagaimana kalau kita bersama-sama menanam kembali bibit padi yang patah?”

Dika mengangguk semangat. Ia membantu Pak Tani menanam kembali bibit padi yang patah. Ia belajar bahwa menjaga tanaman padi itu penting, dan ia harus lebih berhati-hati lagi. Ia juga belajar bahwa meminta maaf itu tidak sulit, dan orang lain akan memaafkan kita jika kita jujur dan menyesal.

Setelah selesai menanam, Dika menerbangkan layang-layangnya. Ia merasa lebih bahagia karena telah memperbaiki kesalahannya. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menjaga sawah dan tanaman padi, karena sawah itu adalah sumber kehidupan bagi keluarganya dan seluruh warga desa. Ia juga ingat pesan ibunya, “Cintai tanah air kita, Dika. Jaga alam, jaga lingkungan.”


Dika tersenyum lebar, layang-layang burung merak menari di langit pagi yang cerah.

Komentar