Di sebuah desa yang asri, hiduplah seorang gadis kecil bernama Lala. Suatu pagi, matahari bersinar hangat menembus celah-celah daun. Pak Tani, ayah Lala, berencana pergi ke hutan bambu untuk mencari bahan kerajinan tangan. Sebelum berangkat, beliau memanggil Lala dengan suara yang lembut.
"Lala, tolong bantu Ayah membawa keranjang ini ke hutan bambu ya, Nak. Ayah harus segera memotong batang bambu sebelum hari semakin siang," ujar Pak Tani dengan penuh harap.
Lala yang saat itu sedang asyik bermain boneka kayu, menjawab dengan nada malas, "Sebentar lagi ya, Ayah. Lala masih ingin bermain sebentar saja."
Pak Tani menghela napas panjang namun tetap tersenyum. Beliau pun berangkat sendirian menuju hutan bambu dengan langkah yang mulai melambat karena usianya. Waktu berlalu, Lala akhirnya bosan bermain. Ia teringat akan janjinya dan segera menyusul ayahnya ke hutan. Sesampainya di sana, ia melihat Pak Tani sedang berjuang keras mengikat tumpukan bambu sendirian. Keringat membasahi dahi ayahnya.
Melihat hal itu, hati Lala merasa sangat menyesal. Ia segera mendekat dan mengambil alih ikatan bambu tersebut. "Maafkan Lala, Ayah. Lala telah menunda tanggung jawab dan membiarkan Ayah bekerja sendirian," ucapnya sambil menunduk sopan.
Pak Tani mengelus kepala Lala dengan penuh kasih sayang. "Lala, anakku, menghormati orang tua bukan hanya dengan kata-kata manis, tetapi juga dengan tanggung jawab yang segera dilakukan. Belajarlah untuk mengutamakan bantuan bagi keluarga sebelum kepentingan diri sendiri," nasihat beliau dengan bijak.
Mendengar perkataan itu, Lala pun mengangguk mantap. Dengan semangat gotong royong, mereka berdua membawa hasil bambu itu pulang ke rumah. Sejak saat itu, Lala menjadi anak yang rajin dan selalu mendahulukan permintaan ayahnya. Ia mengerti bahwa baktinya adalah kebahagiaan terbesar bagi orang tuanya. Kesantunan dan rasa hormat kini selalu terpancar dalam setiap langkah Lala di desa tersebut.
Komentar
Posting Komentar