Di sebuah pasar tradisional yang ramai, hiduplah seekor Ayam Jago bernama Jago. Jago terkenal dengan kokoknya yang lantang, tapi ia sering merasa minder. Ia selalu membandingkan dirinya dengan ayam jago lain yang lebih besar dan gagah.
Suatu hari, Pak Tani, pemilik Jago, datang ke pasar untuk menjual hasil panennya. Pak Tani membawa keranjang besar berisi sayuran segar. Namun, tiba-tiba, angin bertiup kencang dan keranjang itu terbalik! Sayuran berhamburan ke mana-mana.
“Aduh, bagaimana ini? Semua sayuranku berantakan!” keluh Pak Tani dengan wajah sedih. Para pedagang lain hanya menggelengkan kepala, bingung bagaimana membantu.
Jago yang melihat kejadian itu, merasa iba pada Pak Tani. Ia teringat pesan ibunya, “Jadilah ayam yang berguna, Jago. Jangan hanya pandai berkokok, tapi juga berani membantu sesama.”
Dengan ragu-ragu, Jago mulai berkokok sekuat tenaga. “Kok… kok… kok!” Kokoknya yang lantang menarik perhatian orang-orang di pasar. Mereka semua berdatangan dan membantu memungut sayuran yang berserakan.
“Wah, kokokmu hebat sekali, Jago! Berkat kamu, kami semua bisa membantu Pak Tani,” kata seorang pedagang.
Pak Tani tersenyum lebar. “Terima kasih, Jago! Kamu memang ayam jago yang hebat. Kokokmu bukan hanya untuk membangunkan orang, tapi juga untuk membantu sesama.”
Jago merasa sangat senang dan bangga. Ia menyadari bahwa setiap orang memiliki kelebihan masing-masing. Ia tidak perlu menjadi ayam jago yang besar dan gagah, karena kokoknya yang lantang sudah bisa membantu orang lain. Sejak saat itu, Jago semakin percaya diri dan selalu siap membantu Pak Tani dan orang-orang di pasar.
“Kok… kok… kok!” Jago berkokok dengan semangat, menyemangati semua orang di pasar.
Komentar
Posting Komentar