Mila dan Mori Menjaga Api Tungku

Di sebuah kampung adat yang asri, hiduplah seorang gadis kecil bernama Mila. Kampungnya terkenal dengan tradisi unik, yaitu menjaga api tungku bersama-sama. Setiap hari, ada giliran warga yang bertugas menjaga api agar tetap menyala, karena api itu dianggap sebagai simbol kebersamaan dan keberlanjutan desa.

Suatu hari, giliran Mori, sahabat Mila, yang bertugas menjaga tungku. Mori sangat bersemangat, tapi ia juga sangat suka bermain. Ia bermain layang-layang bersama teman-temannya hingga lupa waktu.

Mila melihat Mori asyik bermain, sementara api tungku mulai mengecil. Mila menghampiri Mori dengan lembut. “Mori, api tungku mulai mengecil, kamu harus segera kembali menjaga,” kata Mila.

Mori terkejut. Ia langsung ingat tugasnya. Dengan wajah bersalah, ia berlari kembali ke tungku. Mila menemaninya menjaga api, menambahkan kayu bakar agar api kembali menyala dengan baik.

“Maafkan aku, Mila. Aku lupa,” kata Mori dengan nada menyesal.

Mila tersenyum. “Tidak apa-apa, Mori. Yang penting kamu ingat sekarang. Lain kali, jangan lupa ya, kita harus saling mengingatkan.”

Sejak saat itu, Mila dan Mori selalu saling mengingatkan tentang tugas menjaga tungku. Mereka belajar bahwa menjaga tradisi itu penting, dan itu membutuhkan kerjasama dan saling peduli. Mereka juga belajar bahwa bergiliran itu adil, dan tidak boleh lupa dengan tanggung jawab masing-masing.

Penduduk kampung adat tersenyum melihat Mila dan Mori yang saling membantu. Mereka bangga karena generasi muda mereka mau belajar menjaga tradisi dan peduli terhadap sesama.

Komentar