Di sebuah pantai tropis yang indah, hiduplah seorang anak perempuan bernama Mila. Pantai itu terkenal dengan pasirnya yang putih, air lautnya yang biru, dan pohon kelapa yang menjulang tinggi. Setiap hari, Mila bermain di sana bersama teman-temannya.
Suatu siang, Mila dan teman-temannya ingin membuat istana pasir yang paling besar dan indah di pantai. Mereka berencana membangun menara tinggi, parit yang lebar, dan hiasan dari kerang-kerang cantik. Tapi, mereka berbeda pendapat tentang bagaimana cara membangunnya. Ada yang ingin membangun menara di tengah, ada yang ingin di pinggir, dan ada pula yang ingin membuat parit mengelilingi seluruh istana.
“Aku ingin menara di tengah, supaya istananya terlihat megah!” kata Budi dengan semangat.
“Tidak, tidak! Lebih baik di pinggir, supaya bisa melihat laut dari atas!” sahut Rina.
Perdebatan semakin memanas. Mila merasa bingung. Ia ingin semua teman-temannya senang, tapi bagaimana caranya?
Tiba-tiba, Burung Pipit kecil hinggap di bahu Mila. “Cuit… cuit…” seolah memberi semangat.
Mila terinspirasi. Ia berkata, “Teman-teman, bagaimana kalau kita membangun menara di tengah, tapi kita buat beberapa menara kecil di pinggir juga? Jadi, yang suka melihat laut bisa naik ke menara pinggir, dan yang ingin istana megah bisa melihat menara di tengah.”
Teman-teman Mila terdiam sejenak, lalu mereka tersenyum. “Ide bagus, Mila!” seru Budi.
Mereka pun bekerja sama dengan semangat. Budi menggali parit, Rina mencari kerang, dan yang lain membangun menara. Mila memastikan semua orang merasa senang dan terlibat. Mereka saling membantu dan menyemangati satu sama lain.
Akhirnya, istana pasir yang indah pun selesai dibangun. Istana itu benar-benar megah dan cantik, dengan menara tinggi di tengah dan menara kecil di pinggir. Semua teman Mila tertawa gembira dan merasa bangga dengan hasil kerja sama mereka.
Mila tersenyum lebar. Ia belajar bahwa perbedaan pendapat bisa diselesaikan dengan musyawarah dan kerja sama. Dan yang terpenting, ia belajar tentang tanggung jawab untuk menjaga keharmonisan dalam pertemanan.
Burung Pipit kembali hinggap di bahu Mila. “Cuit… cuit…” seolah mengucapkan selamat atas persahabatan mereka yang semakin erat.
Komentar
Posting Komentar