
Mentari pagi menyinari sawah yang hijau. Embun masih menempel di ujung-ujung daun padi. Nara, seorang gadis kecil berumur delapan tahun, sedang membantu ibunya memanen padi. Di dekatnya, Aira, sahabat Nara yang seusia, juga ikut membantu ayahnya.
“Aduh, aku ingin memetik padi duluan!” keluh Nara sambil menunjuk ke tumpukan padi yang terlihat menggiurkan. Ibunya tersenyum lembut.
“Nanti, Nara. Sekarang giliran Ibu memetik. Kita harus bergiliran, sayang. Kalau semua ingin memetik bersamaan, pekerjaan tidak akan selesai,” jelas ibunya dengan sabar.
Nara cemberut. Ia merasa tidak sabar. Ia melihat Aira sudah asyik memetik padi dengan cekatan. “Aira sudah banyak sekali padinya!” gumam Nara.
Aira mendengar gumaman Nara. Ia menghampiri Nara dan tersenyum. “Nanti giliranmu, Nara. Ibu Nara sudah memetik banyak, kan? Sekarang giliran kita bersenang-senang membantu ayah,” kata Aira dengan ramah.
Nara terdiam. Ia melihat ibunya yang sudah berkeringat memetik padi. Ia teringat pesan kakeknya, “Sopan santun itu penting, Nara. Bergiliran itu adil dan menyenangkan.”
Nara menarik napas dalam-dalam. “Iya, Aira. Maafkan aku. Aku jadi tidak sabar karena ingin cepat-cepat membantu,” ucap Nara dengan nada menyesal.
“Tidak apa-apa, Nara. Kita kan sahabat,” jawab Aira sambil tersenyum. Mereka berdua kemudian duduk di dekat ibu dan ayah mereka, menunggu giliran untuk memetik padi.
Ketika giliran Nara tiba, ia memetik padi dengan semangat. Ia merasa senang karena bisa membantu orang tuanya. Ia juga merasa bangga karena sudah belajar bergiliran dengan sabar dan sopan. Nara kini percaya diri bahwa ia bisa melakukan banyak hal jika ia mau belajar dan bersabar.
Sore harinya, setelah selesai memanen, mereka semua berkumpul menikmati hidangan nasi yang dimasak dengan padi hasil panen mereka sendiri. Aira dan Nara tertawa riang, menikmati kebersamaan dan rasa syukur atas rezeki yang melimpah.
Komentar
Posting Komentar