Udin dan Pagi yang Ramai

Mentari pagi menyinari jalan kampung. Udin, seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun, berdiri di depan rumahnya. Hari ini adalah hari pertama Udin membantu ibunya berjualan kue cucur di pasar. Biasanya, Udin bermain dengan teman-temannya, tapi ibunya bilang, “Udin, bantu Ibu sebentar saja ya. Nanti kamu bisa bermain lagi.”

Udin merasa gugup. Ia tidak yakin bisa melayani pembeli dengan baik. “Bagaimana kalau aku lupa menyapa? Atau bagaimana kalau aku salah menimbang uang?” gumamnya dalam hati. Ia melihat ke seberang jalan, teman-temannya sudah asyik bermain layangan.

Ibunya menyadari kegelisahan Udin. “Udin, lihatlah. Setiap orang punya tugas masing-masing. Ibu membuat kue, Bapak mengantar, dan kamu membantu Ibu menyapa pembeli dan menimbang uang. Itu tanggung jawabmu,” kata ibunya lembut. “Ingat, senyum dan sapa itu penting. Katakan ‘Selamat pagi, Bu/Pak’ dan ‘Terima kasih’ setelah pembeli membayar.”

Udin menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba mengingat pesan ibunya. Ketika pembeli pertama datang, Udin sedikit gemetar. Tapi ia ingat, ia harus tersenyum dan menyapa. “Selamat pagi, Bu!” sapanya dengan suara kecil. Pembeli itu tersenyum balik. Udin menimbang kue cucur dengan hati-hati dan mengucapkan, “Terima kasih, Bu!”

Semakin lama, Udin semakin percaya diri. Ia belajar menyapa dengan ramah dan menimbang uang dengan tepat. Ia bahkan membantu ibunya membungkus kue cucur untuk dibawa pulang. “Wah, ternyata menyenangkan ya membantu Ibu,” pikir Udin.

Sore harinya, setelah selesai berjualan, Udin berlari ke arah teman-temannya. “Aku tadi membantu Ibu berjualan kue cucur!” serunya dengan bangga. Teman-temannya tersenyum. Udin merasa senang dan bertanggung jawab. Ia tahu, membantu orang tua adalah hal yang baik dan menyenangkan.

Ibunya memeluk Udin. “Ibu bangga padamu, Udin. Kamu sudah belajar tentang sopan santun dan tanggung jawab.” Udin tersenyum lebar. Ia siap untuk membantu ibunya lagi besok.

Komentar