
Mentari pagi menyapa Pantai Tanjung Biru dengan hangat. Pak Tani, seorang petani yang ramah, datang membawa anyaman bambu yang sudah mulai lapuk. Ia ingin memperbaiki keranjang besar yang digunakan untuk menangkap ikan bersama warga desa.
“Aduh, anyamannya sudah banyak yang bolong,” keluh Pak Tani sambil menggaruk-garuk kepalanya. “Bagaimana ini, nanti ikannya kabur semua!”
Tiba-tiba, seorang anak kecil berlari menghampiri. “Pak Tani, saya bantu anyam, ya!” serunya riang. Anak itu adalah Rina, cucu seorang nelayan. Pak Tani tersenyum. “Tentu saja, Rina. Tapi, anyaman ini butuh ketelitian, Nak.”
Rina mencoba menganyam, tapi jarinya masih kaku. Pak Tani dengan sabar membimbingnya. “Lihat, Rina. Anyaman ini harus kuat dan rapat, seperti persahabatan kita,” kata Pak Tani lembut.
Beberapa warga desa lain juga ikut membantu. Ada yang mencari bambu baru, ada yang memotongnya, dan ada yang menganyam bersama Rina dan Pak Tani. Mereka bekerja sama dengan riang gembira.
“Ayo, semangat! Keranjang ini penting untuk kita semua,” seru seorang ibu sambil tersenyum.
Sore harinya, keranjang besar itu sudah selesai diperbaiki. Anyamannya tampak baru dan kuat. Pak Tani dan warga desa merasa bangga. “Terima kasih atas bantuannya, semuanya!” ucap Pak Tani dengan tulus. “Dengan bekerja sama, kita bisa menyelesaikan semua tugas.”
Rina tersenyum lebar. Ia belajar bahwa gotong royong itu menyenangkan dan membuat persahabatan semakin erat. “Rukun itu indah, ya, Pak Tani!” ujarnya.
Pak Tani mengangguk. “Benar sekali, Rina. Rukun dan bekerja sama adalah kunci kebahagiaan kita bersama.”
Komentar
Posting Komentar