Ayu dan Janji Pagi

Mentari pagi menyinari sawah hijau yang luas. Embun masih menempel di ujung rumput, berkilauan seperti permata. Ayu, seorang gadis kecil berambut panjang, duduk di tepi sawah, menatap punggung ibunya yang sedang menanam padi. Kakaknya, Budi, sibuk membantu, tertawa riang sambil menyemprotkan air ke tanaman.

“Ayu, sini bantu Ibu!” panggil Ibu dari kejauhan. Ayu hanya menggelengkan kepala. Ia merasa sedih. Sejak Budi tumbuh besar dan bisa membantu Ibu di sawah, Ayu merasa tersisih. Dulu, Ibu selalu mengajaknya bicara dan bermain di sela-sela tanaman padi. Sekarang, Ibu lebih banyak berbicara dengan Budi.

Kenapa Ayu tidak ikut membantu?” tanya Budi sambil mendekat. Ayu hanya menunduk, malu untuk menjawab. Ia merasa tidak berguna. “Aku… aku tidak bisa seperti Budi,” gumamnya pelan.

Ibu yang mendengar gumaman Ayu, menghampiri mereka. “Ayu sayang, Ibu tidak pernah melupakanmu. Setiap pagi, Ibu selalu menunggumu membawakan air minum untuk Ibu dan Budi. Itu sangat membantu, Ayu. Ibu sangat menghargai kejujuranmu dan bantuanmu,” kata Ibu lembut sambil mengusap rambut Ayu.

Ayu terkejut. Ia tidak menyadari bahwa Ibu selalu menunggunya. Ia merasa bersalah karena selama ini merasa tersisih dan tidak menghargai tugas kecil yang diberikan Ibu. “Maafkan Ayu, Bu. Ayu janji, mulai besok Ayu akan selalu membawakan air minum pagi-pagi,” ucap Ayu dengan mata berkaca-kaca.

Budi tersenyum. “Tentu saja, Ayu! Kita harus saling membantu. Ibu dan Ayah selalu mengajarkan kita untuk gotong royong,” kata Budi sambil merangkul Ayu.

Ayu tersenyum lebar. Ia merasa bahagia dan dihargai. Ia belajar bahwa kejujuran dan membantu orang tua, sekecil apapun itu, sangat berarti. Sejak saat itu, Ayu selalu membawakan air minum untuk Ibu dan Budi setiap pagi, dan ia merasa menjadi bagian penting dari keluarga.

Komentar