Kancil dan Sungai yang Murka

Di sebuah desa yang asri, mengalir sungai yang jernih. Sungai itu adalah sumber kehidupan bagi semua penduduk desa. Kancil, si hewan cerdik, sangat menyukai sungai itu. Ia sering bermain di tepi sungai, mencari makan, dan minum airnya yang segar. Suatu hari, Kancil sedang asyik bermain di sungai. Ia lupa bahwa ia harus menjaga kebersihan sungai.

Tanpa sengaja, Kancil membuang kulit buah ke sungai. “Ah, tidak apa-apa, hanya kulit buah kecil,” gumam Kancil. Ia melanjutkan bermain. Mori, seekor burung yang bijaksana, melihat kejadian itu dari atas pohon. Mori terbang mendekati Kancil.

“Kancil, apa yang kamu lakukan? Sungai ini adalah sumber kehidupan kita. Jangan membuang sampah ke sungai!” tegur Mori dengan nada prihatin. Kancil terdiam. Ia merasa bersalah. Ia menyadari bahwa tindakannya itu salah. Sungai yang tadinya jernih, kini mulai kotor karena ulahnya.

Kancil menunduk malu. “Maafkan aku, Mori,” ucap Kancil dengan suara pelan. “Aku tidak sadar. Aku janji tidak akan mengulangi lagi.” Mori tersenyum. “Meminta maaf itu baik, Kancil. Tapi, jangan hanya meminta maaf. Tunjukkan dengan tindakanmu.”

Kancil segera beraksi. Ia mulai memungut sampah yang ada di tepi sungai. Ia juga mengajak teman-temannya untuk membersihkan sungai bersama-sama. Mori membantu dari atas pohon, mengarahkan Kancil dan teman-temannya. Dengan semangat gotong royong, sungai itu kembali bersih dan jernih.

Sejak saat itu, Kancil selalu menjaga kebersihan sungai. Ia juga mengingatkan teman-temannya untuk tidak membuang sampah sembarangan. Kancil belajar bahwa menjaga kebersihan lingkungan adalah bentuk cinta kepada tanah air. Ia juga belajar bahwa tidak mudah menyerah dalam memperbaiki kesalahan. Ia terus berusaha menjaga sungai tetap bersih dan indah, demi kebaikan bersama.

Komentar