Di sebuah kampung adat yang asri, hiduplah seorang gadis kecil bernama Lumi. Kampung itu terkenal dengan rumah-rumah panggungnya yang indah dan kebersamaan antar warga. Lumi dikenal sebagai anak yang pemalu, terutama saat harus tampil di depan banyak orang.
Suatu hari, kampung mengadakan lomba menari untuk merayakan panen raya. Semua anak-anak kampung sangat antusias mendaftar. Tapi, Lumi merasa takut. “Aku tidak bisa, Bu,” gumamnya pada ibunya. “Aku pasti salah langkah dan semua orang akan menertawakanku.”
Tiba-tiba, dari jendela kamarnya, Lumi mendengar suara riang. Burung Jalak yang lucu bertengger di ambang jendela. “Hai, Lumi! Kenapa murung begitu?” sapa Burung Jalak.
Lumi menceritakan ketakutannya. Burung Jalak mendengarkan dengan sabar. “Lumi, setiap orang punya kelebihan masing-masing. Jangan takut mencoba! Ingat, burung belajar terbang dengan mencoba mengepakkan sayapnya berkali-kali. Kalau jatuh, bangkit lagi!” kata Burung Jalak dengan bijak.
Kata-kata Burung Jalak membuat Lumi berpikir. Ia teringat pesan ibunya, “Jangan pernah menyerah pada impianmu, Nak.” Dengan semangat baru, Lumi memutuskan untuk mendaftar lomba menari.
Saat tiba giliran Lumi tampil, jantungnya berdebar kencang. Ia melihat banyak pasang mata tertuju padanya. Tapi, Lumi ingat pesan Burung Jalak. Ia menarik napas dalam-dalam dan mulai menari. Gerakannya memang tidak sempurna, tapi ia menari dengan sepenuh hati.
Warga kampung tersenyum dan bertepuk tangan. Lumi merasa lega dan bahagia. Ia tidak menjadi juara, tapi ia telah berani menghadapi ketakutannya. Setelah lomba, Burung Jalak hinggap di bahu Lumi. “Hebat, Lumi! Kamu sudah berani mencoba. Itu jauh lebih penting daripada menjadi juara.”
Sejak saat itu, Lumi tidak lagi pemalu. Ia belajar bahwa percaya diri adalah kunci untuk meraih impian. Dan ia selalu ingat pesan Burung Jalak, sahabatnya yang bijaksana.
Komentar
Posting Komentar