Nino sangat senang! Hari ini, ia diajak bermain ke hutan pinus bersama teman-temannya. Hutan pinus itu tinggi-tinggi, baunya harum sekali. “Wah, asyik sekali!” seru Nino.
Sesampainya di hutan, teman-temannya langsung bersemangat. “Ayo kita main rumah-rumahan!” usul Rina. “Tapi aku mau main petak umpet!” timpal Budi.
Nino mengerutkan kening. “Rumah-rumahan itu membosankan. Aku lebih suka main tebak gambar!” Nino bersikeras. Teman-temannya saling pandang. Mereka semua ingin bermain yang berbeda.
“Aku juga mau petak umpet!” kata Dito. “Lalu bagaimana?” tanya Rina bingung. Mereka mulai berdebat kecil. Nino merasa tidak didengarkan. Ia mulai merasa kesal.
Tiba-tiba, seorang kakek tua yang sedang memetik kayu bakar lewat di dekat mereka. Kakek itu tersenyum ramah. “Kenapa kalian bertengkar?” tanyanya lembut.
Nino menceritakan apa yang terjadi. Kakek itu mengangguk-angguk. “Anak-anak, bermain itu seharusnya menyenangkan. Kalau kalian semua punya keinginan yang berbeda, bagaimana caranya agar semua bisa ikut bermain?”
“Hmm…,” gumam Budi. “Bagaimana kalau kita gabungkan saja? Kita buat rumah-rumahan, tapi di dalam rumah-rumahan itu ada petak umpet, dan sesekali kita tebak gambar?”
Rina dan Dito mengangguk setuju. “Ide bagus, Budi!” seru mereka bersamaan. Nino pun tersenyum lebar. “Benar! Itu ide yang paling asyik!”
Mereka pun mulai bermain dengan gembira. Nino, Rina, Budi, dan Dito saling membantu membangun rumah-rumahan dari ranting dan daun. Mereka tertawa dan bersorak-sorai saat bermain petak umpet. Dan mereka juga saling menebak gambar dengan penuh semangat.
Saat matahari mulai terbenam, Nino dan teman-temannya pulang dengan hati gembira. “Hari ini sangat menyenangkan!” kata Nino. Ia belajar bahwa bermain bersama itu lebih seru jika semua orang saling peduli dan mau mengalah.
Kakek itu tersenyum melihat mereka. Ia tahu, anak-anak itu telah belajar tentang pentingnya kebersamaan dan saling menghargai.
Komentar
Posting Komentar