Sari dan Upacara Benih

Di sebuah sekolah desa yang asri, hiduplah seorang anak perempuan bernama Sari. Sari sangat menyukai sekolahnya, tapi akhir-akhir ini ia merasa sedikit sedih. Teman-temannya sibuk mempersiapkan upacara Tabur Benih, sebuah tradisi penting di desanya untuk meminta berkah hasil panen yang melimpah.

Sari ingin sekali ikut membantu, tapi ia merasa tidak pandai seperti teman-temannya. Mereka sudah tahu cara membuat pupuk kompos dan memilih bibit yang baik. Sementara Sari, merasa hanya bisa menonton dari pinggir lapangan.

“Aku tidak bisa apa-apa,” gumam Sari sambil menunduk. Fajar, teman dekatnya, yang melihat kesedihan Sari menghampirinya. “Kenapa kamu murung, Sari?” tanya Fajar lembut.

“Aku merasa tersisih, Fajar. Semua orang sibuk dan aku tidak tahu apa yang bisa kubantu,” jawab Sari dengan suara lirih.

Fajar tersenyum. “Kamu bisa membantu menyiram bibit-bibit yang baru ditanam, Sari. Atau membantu membersihkan area sekitar ladang. Setiap bantuan itu penting, kok!”

Sari mengangkat kepalanya. Ia teringat pesan ibunya, “Setiap orang punya peran penting, Sari. Jangan pernah merasa tidak berguna.” Sari segera membantu Fajar menyiram bibit-bibit tanaman. Ia melakukannya dengan hati-hati dan penuh semangat.

Upacara Tabur Benih pun berjalan lancar. Semua warga desa ikut serta, termasuk Sari dan Fajar. Sari merasa bahagia karena bisa berkontribusi, meskipun hanya dengan menyiram bibit. Ia belajar bahwa gotong royong dan peduli lingkungan adalah bagian penting dari tradisi Indonesia.

Setelah upacara selesai, Sari tersenyum lebar. Ia tahu, menjaga tradisi itu bukan hanya tentang mengikuti ritual, tapi juga tentang menjaga lingkungan dan saling membantu sesama. Sari berjanji pada dirinya sendiri, ia akan selalu peduli dengan lingkungan dan tradisi desanya.

Komentar