
Di sebuah kampung adat yang asri, hiduplah seekor Ayam Jago bernama Jago. Jago ini terkenal dengan kokoknya yang paling lantang di pagi hari. Tapi, Jago punya satu kebiasaan buruk: dia selalu ingin menjadi yang pertama dalam segala hal, termasuk mandi di sungai.
Setiap pagi, ketika mentari mulai bersinar, semua hewan berkumpul di sungai untuk mandi. Ada Bebek, Itik, dan Angsa. Jago selalu mendahului mereka, mendorong dan menyela, “Aku duluan! Aku duluan!” Bebek dan Itik seringkali terdorong dan kesal.
Suatu hari, Kakek Burung Hantu yang bijaksana melihat tingkah laku Jago. Ia menghampiri Jago dengan sabar. “Jago, kokokmu memang lantang, tapi sopan santunmu perlu diperbaiki. Mandi itu harus bergiliran, lho,” kata Kakek Burung Hantu.
Jago terdiam. Ia merasa malu. “Tapi, Kakek, aku ingin cepat bersih!” jawabnya dengan nada pelan.
“Kebersihan memang penting, Jago. Tapi, saling membantu dan menghormati giliran itu lebih penting lagi. Bayangkan jika kamu selalu mendahului, bagaimana perasaan teman-temanmu?” Kakek Burung Hantu menjelaskan.
Jago mulai mengerti. Ia meminta maaf kepada Bebek dan Itik. “Maafkan aku, Bebek. Maafkan aku, Itik. Aku janji tidak akan mendahului lagi.”
Sejak saat itu, Jago belajar bergiliran mandi. Ia menunggu Bebek dan Itik mandi lebih dulu. Bahkan, ia membantu mereka mencari batu-batu kecil untuk membersihkan bulu. Angsa pun senang karena tidak lagi terganggu. Kampung adat menjadi lebih harmonis dan penuh kebersamaan. Jago pun merasa lebih bahagia karena telah belajar sopan santun dan saling membantu.
Kini, kokokan Jago tidak hanya lantang, tapi juga penuh dengan kebaikan dan kesopanan. Ia menjadi contoh bagi semua hewan di kampung adat.
Komentar
Posting Komentar