
Mentari pagi menyinari sawah yang hijau. Embun masih menempel di ujung rumput, berkilauan seperti permata. Mori, seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun, berdiri di tengah sawah, memegang sekeranjang benih padi. Hari ini, ia bertugas membantu Ayah menanam padi.
“Ayo, Mori, cepatlah menanamnya,” kata Ayah, sambil menunjuk lahan yang sudah disiapkan. “Padi ini akan menjadi sumber makanan kita semua.”
Mori mengangguk semangat. Ia mulai menabur benih satu per satu. Namun, ia merasa bosan. Menabur benih itu melelahkan dan membosankan. Ia ingin segera bermain dengan teman-temannya.
“Ayah, kapan kita selesai?” Mori bertanya dengan nada lesu.
Ayah tersenyum. “Menanam padi memang butuh kesabaran, Nak. Tidak bisa terburu-buru. Setiap benih harus ditanam dengan hati-hati agar tumbuh dengan baik.”
Mori menghela napas. Ia kembali menabur benih, tapi pikirannya melayang-layang. Ia membayangkan sedang bermain layang-layang di tepi sungai. Ia hampir saja mengabaikan beberapa benih, menaburkannya asal-asalan.
“Mori, lihatlah!” Ayah menunjuk ke arah tanaman padi yang sudah tumbuh subur di lahan sebelah. “Lihatlah bagaimana mereka tumbuh dengan sabar, menanti giliran untuk berbuah. Kita juga harus seperti itu.”
Mori terdiam. Ia memperhatikan tanaman padi itu dengan seksama. Ia melihat bagaimana setiap batang padi berdiri tegak, menghadap mentari dengan penuh semangat. Ia juga melihat bagaimana mereka saling mendukung, meskipun diterpa angin kencang.
“Benar kata Ayah,” Mori bergumam dalam hati. “Menanam padi memang butuh kesabaran.”
Dengan semangat baru, Mori kembali menabur benih. Ia menabur dengan hati-hati, memastikan setiap benih tertanam dengan baik. Ia tidak lagi memikirkan kebosanan atau keinginan untuk bermain. Ia fokus pada pekerjaannya, mengikuti teladan tanaman padi yang sabar dan tekun.
Sore harinya, pekerjaan menanam padi selesai. Mori merasa lelah, tapi juga bangga. Ia telah belajar tentang pentingnya kesabaran dan ketekunan. Ia tahu, hasil panen padi nanti akan terasa lebih manis karena ia telah bekerja keras dengan sabar.
“Terima kasih, Ayah, sudah mengajariku,” kata Mori sambil tersenyum.
Ayah membalas senyumnya. “Sama-sama, Nak. Ingatlah, tidak mudah menyerah dalam mencapai tujuan. Semua membutuhkan kesabaran dan kerja keras.”
Komentar
Posting Komentar