
Matahari pagi bersinar hangat di desa tempat tinggal Nino. Hari ini, seluruh warga sedang sibuk mempersiapkan acara perayaan panen raya di balai desa. Suasana sangat ramai. Ada yang membawa bambu, ada yang menata bunga, dan ada pula yang sedang menghias panggung kayu dengan kain batik.
Nino berdiri di sudut balai desa dengan tangan yang gemetar. Ia diminta oleh Pak Kepala Desa untuk membantu menghias panggung yang tinggi. Namun, Nino merasa takut. Ia takut jika harus memanjat tangga kayu yang tinggi untuk memasang janur kuning. Baginya, itu adalah hal baru yang sangat menakutkan.
Tiba-tiba, dari arah kolam kecil di samping balai desa, terdengar suara cipratan air. Seekor Ikan Kecil muncul ke permukaan. Ikan itu seolah menatap Nino dengan mata bulatnya yang jernih. "Mengapa kamu diam saja, Nino? Ayo, teman-temanmu sedang bekerja sama di sana," ucap Ikan Kecil dengan suara lembut yang menenangkan hati Nino.
Nino menunduk malu. "Aku takut jatuh, Ikan Kecil. Aku belum pernah memanjat setinggi itu," jawabnya pelan.
Ikan Kecil berenang mendekati pinggiran kolam. "Kamu tidak sendirian. Lihatlah, mereka semua saling membantu. Jika kita melakukan hal berat bersama-sama, rasa takut itu akan menghilang. Bukankah warga desa kita selalu rukun dan bergotong royong?"
Nino memperhatikan sekelilingnya. Ia melihat temannya yang memegangi tangga agar tidak goyang, dan yang lainnya memberikan aba-aba dengan senyum ceria. Hati Nino pun menjadi lebih tenang. Ia menyadari bahwa di desa ini, tidak ada yang harus dilakukan sendirian.
Dengan keberanian yang mulai tumbuh, Nino mendekati tangga. Beberapa temannya langsung menyapa dan memegang tangga tersebut dengan kuat. "Ayo Nino, kami jaga di bawah!" seru mereka kompak. Nino pun perlahan memanjat, satu langkah demi satu langkah. Ia merasa aman karena teman-temannya saling menjaga.
Akhirnya, Nino berhasil memasang janur kuning dengan indah di puncak panggung. Sorak-sorai gembira terdengar dari warga desa. Ikan Kecil kembali melompat di kolam, seolah ikut merayakan keberhasilan Nino.
Hari itu, Nino belajar bahwa dengan kebersamaan, hal yang paling menakutkan sekalipun bisa diatasi. Ia merasa bangga bisa menjadi bagian dari tradisi gotong royong di desanya yang penuh kasih sayang.
Komentar
Posting Komentar