
Di sebuah Desa Hijau yang asri, hiduplah seekor Kancil yang lincah. Penduduk desa mengenalnya sebagai hewan yang cerdik, namun Kancil terkadang lupa bahwa sopan santun adalah kunci pertemanan. Suatu pagi, Kancil merasa sangat haus setelah berlari-lari di bawah sinar matahari.
Ia pun menghampiri Nyi Pohon, sebuah pohon beringin tua yang sangat besar dan rindang. Nyi Pohon memiliki mata air jernih di bawah akarnya yang sering menjadi tempat berteduh warga desa. "Hai, Pohon tua! Berikan aku airmu sekarang juga, aku sudah sangat lelah!" seru Kancil dengan terburu-buru tanpa menyapa dengan sopan.
Nyi Pohon yang bijak hanya bergoyang pelan, menyebarkan aroma tanah yang sejuk. "Kancil yang baik, air ini adalah milik bersama warga desa. Jika kau ingin meminumnya, tidakkah sebaiknya kau meminta dengan bahasa yang lebih lembut?" tanya Nyi Pohon dengan suara yang lembut bagai hembusan angin.
Kancil terdiam sejenak. Ia merasa malu karena telah bersikap kurang sopan. Ia pun menundukkan kepalanya, lalu berkata dengan tulus, "Maafkan aku, Nyi Pohon. Aku tadi terlalu mementingkan diriku sendiri hingga lupa menjaga tata krama. Bolehkah aku meminta sedikit air untuk melepas dahaga?"
Mendengar kejujuran dan permohonan maaf Kancil, Nyi Pohon merasa senang. Ranting-rantingnya bergerak lembut, membiarkan air jernih mengalir ke sebuah ceruk batu di dekat akarnya. "Tentu, Kancil. Kejujuran dan kerendahan hati adalah tanda budi pekerti yang luhur. Silakan minum, namun ingatlah untuk selalu menjaga kebersihan tempat ini agar warga desa lain juga bisa menikmatinya."
Kancil pun minum dengan tenang. Setelah merasa segar, ia membersihkan dedaunan kering yang berserakan di sekitar akar Nyi Pohon sebagai wujud gotong royong dan rasa terima kasihnya. Ia menyadari bahwa tantangan kecil hari itu bukan tentang rasa haus, melainkan tentang bagaimana bersikap santun kepada sesama makhluk hidup.
Sejak hari itu, Kancil menjadi hewan yang lebih santun. Ia tidak lagi asal bicara dan selalu mendahulukan kesopanan di mana pun ia berada. Desa Hijau pun semakin terasa damai karena semua penduduknya saling menghargai satu sama lain dengan penuh kebaikan hati.
Komentar
Posting Komentar