
Di sebuah jalan kampung yang asri, Fajar sedang duduk termenung di bawah pohon beringin tua. Hari itu, warga desa berencana menanam pohon-pohon buah di sepanjang jalan agar kampung mereka lebih sejuk dan indah. Namun, Fajar merasa ragu. Ia takut tangannya yang kecil tidak bisa menanam pohon dengan benar, atau malah membuat tanaman itu layu.
"Kenapa wajahmu terlihat sedih, Fajar?" tanya sebuah suara lembut dari balik semak-semak. Ternyata itu adalah Si Kancil yang sedang melompat riang. Si Kancil memang dikenal sebagai hewan yang bijak dan selalu ingin membantu sesama di kampung tersebut.
Fajar menghela napas, "Aku takut mencoba menanam pohon, Kancil. Bagaimana kalau aku gagal? Aku ingin sekali membantu agar tanah kita lebih hijau, tapi rasa takut ini membuatku diam saja."
Si Kancil mendekat dan menepuk bahu Fajar dengan lembut. "Fajar, rasa takut itu wajar. Namun, cinta pada tanah kelahiran kita lebih besar daripada ketakutan itu. Kamu tidak perlu melakukannya sendirian. Gotong royong adalah rahasia kekuatan kita."
Mendengar perkataan itu, hati Fajar merasa tenang. Ia menyadari bahwa ia tidak harus sempurna, yang terpenting adalah semangatnya untuk menjaga lingkungan sekitar. Dengan perlahan, Fajar bangkit. Ia mengambil cangkul kecil dan mulai menggali lubang di tanah. Si Kancil dengan sabar membimbingnya, memberikan arahan bagaimana menaruh bibit agar tumbuh subur.
Tak lama kemudian, anak-anak desa lainnya datang membawa air dan pupuk. Mereka bekerja bersama di sepanjang jalan kampung, tertawa dan bernyanyi riang. Fajar pun tersenyum lebar. Rasa takut yang tadi sempat menghantuinya hilang seketika, digantikan oleh kebahagiaan karena bisa berbuat sesuatu untuk desanya.
Peduli sesama dan menjaga alam adalah wujud nyata dari cinta tanah air. Kini, Fajar mengerti bahwa setiap tangan kecil yang bersatu akan membuat tanah Indonesia semakin asri dan penuh harapan. Ia tidak lagi takut mencoba, karena ia tahu ia adalah bagian dari kebaikan yang sedang dibangun bersama.
Komentar
Posting Komentar