Sore itu, suasana Mushola kampung terasa sangat tenang. Kiko, seorang anak laki-laki yang rajin, duduk bersila di atas tikar pandan sambil memegang buku bacaan yang agak usang. Ia sedang giat berlatih membaca, sebuah tradisi yang sudah diajarkan kakeknya sejak lama agar ilmu tetap terjaga di desanya. Namun, cahaya lampu di dalam mushola mulai meredup, dan ia hanya membawa satu buah lampu minyak kecil.
Tiba-tiba, terdengar suara gemericik dari kolam di samping mushola. Ikan Kecil, seekor ikan yang lincah dan sering mengamati anak-anak mengaji, tampak berenang mendekat ke arah dinding mushola yang terbuka. Kiko menoleh dan tersenyum, “Wah, rupanya kamu sedang menemani belajarku ya?” sapanya dengan lembut.
Tiba-tiba, datanglah teman-teman Kiko yang lain. Mereka juga ingin belajar, namun mereka tidak membawa lampu tambahan. Ruangan mushola menjadi terasa sesak dan gelap. Kiko merasa bingung karena cahaya lampu minyaknya tidak cukup untuk menerangi semua orang. Saling membantu adalah nasihat yang selalu diingat Kiko dari orang tuanya.
“Bagaimana jika kita belajar bergiliran?” usul Kiko dengan bijak. Ia menyadari bahwa memaksakan semua orang membaca sekaligus dalam keremangan akan membuat mata lelah dan ilmu sulit diserap. Teman-temannya setuju. Mereka pun membentuk lingkaran. Satu per satu, mereka menggunakan lampu minyak itu untuk membaca, sementara yang lain mendengarkan dengan saksama sambil menunggu giliran.
Melihat kesabaran mereka, Ikan Kecil di kolam seolah ikut menari dengan riang, menciptakan riak-riak air yang memantulkan cahaya bulan. Kiko merasa sangat bahagia. Meskipun harus menunggu, mereka justru belajar lebih banyak karena saling menyimak bacaan satu sama lain. Inilah indahnya menjaga tradisi, bukan sekadar tentang buku, tetapi tentang kebersamaan dan kerelaan hati untuk berbagi.
Ketika semua selesai, mereka merapikan buku dan tikar bersama-sama. Tidak ada yang merasa dirugikan, justru mereka merasa lebih akrab. Tradisi belajar di mushola tetap terjaga, dan Kiko tahu, selama mereka saling mendukung, ilmu akan selalu bersinar terang di desa mereka.
Komentar
Posting Komentar