Di sebuah desa yang asri, hiduplah seorang gadis kecil bernama Lumi. Ia dikenal sebagai anak yang sangat rajin dan peduli pada lingkungan. Setiap pagi, sebelum berangkat sekolah, Lumi selalu menyempatkan diri mampir ke tepian sungai desa yang jernih untuk sekadar menyapa alam.
Namun, belakangan ini, Lumi merasa sedih. Ia sering melihat sampah plastik dan dedaunan kering menumpuk di pinggiran sungai. Padahal, sungai itu adalah sumber kehidupan bagi seluruh warga desa. Lumi ingin sekali membersihkannya, namun ia tahu tugas itu sangat berat jika dikerjakan sendiri.
Di dekat sungai, berdirilah sebuah pohon beringin tua yang sangat besar dan rindang. Warga desa menyebutnya Nyi Pohon. Konon, Nyi Pohon adalah penjaga desa yang bijaksana. Suatu hari, saat Lumi sedang duduk termenung di bawah naungan dahan Nyi Pohon, ia berbisik lirih, "Duhai Nyi Pohon, aku ingin sungai ini bersih kembali, tapi aku hanya anak kecil. Apakah mereka mau mendengarkanku?"
Nyi Pohon tidak bicara dengan kata-kata, namun dedaunannya berdesir lembut seolah menjawab, "Bersabarlah, wahai anak baik. Kebaikan yang dilakukan dengan ketulusan akan mengetuk pintu hati siapa saja."
Lumi pun tersenyum. Ia tidak mengeluh. Keesokan harinya, Lumi datang ke sungai dengan membawa keranjang bambu. Ia mulai memunguti sampah satu per satu dengan tenang. Ia melakukannya dengan riang, bernyanyi kecil, dan tidak mempedulikan peluh yang menetes di keningnya. Ia sangat sabar, meskipun sampah yang dibersihkan sangat banyak.
Melihat ketekunan Lumi, seorang tetangga yang lewat merasa malu. Ia kemudian ikut turun ke sungai membantu Lumi. Tak lama, tetangga lainnya pun datang membawa alat pembersih. Dalam waktu singkat, sungai desa yang tadinya kotor kini tampak bersih berkilauan seperti permata.
Lumi menatap sungai dengan bahagia. Ia sadar bahwa kesabaran adalah kunci untuk mengajak orang lain berbuat baik. Dengan gotong royong dan sikap santun, warga desa kini lebih kompak dalam menjaga kebersihan lingkungan. Nyi Pohon pun tampak lebih hijau dan segar, seolah ikut tersenyum melihat kedamaian yang tercipta di tepian sungai desa tersebut.
Komentar
Posting Komentar