Pesta Panen di Kampung Adat

Di sebuah kampung adat yang asri, udara pagi terasa begitu sejuk. Lala sedang sibuk menyapu halaman balai desa untuk persiapan acara pesta panen nanti sore. Hatinya riang karena ia ingin kampungnya terlihat bersih dan indah.

Tak lama kemudian, datanglah Rani membawa keranjang bambu berisi bunga warna-warni. Tanpa banyak bicara, Rani langsung menaruh keranjang itu di tengah jalan yang baru saja disapu Lala. "Aduh, kok ditaruh di sini sih, Rani? Kan aku baru saja menyapunya bersih!" seru Lala dengan nada kesal.

Rani terkejut dan wajahnya memerah. "Maafkan aku, Lala. Aku hanya ingin membantu menghias jalan agar terlihat cantik," jawab Rani dengan suara pelan. Lala terdiam. Ia menyadari bahwa ia telah menegur sahabatnya dengan kurang sopan. Ia lupa bahwa Rani berniat baik untuk membantu pekerjaan mereka.

Lala pun menarik napas panjang, lalu tersenyum lembut. "Maafkan aku juga ya, Rani. Seharusnya aku bertanya dulu sebelum marah. Terima kasih ya sudah membawakan bunga yang cantik ini," ucap Lala tulus. Rani pun tersenyum lega mendengar permohonan maaf sahabatnya.

Keduanya kemudian melanjutkan pekerjaan dengan semangat. Lala menyapu dengan rapi, sementara Rani menyusun bunga-bunga itu di sisi jalan. Mereka menerapkan nilai gotong royong, saling bahu-membahu tanpa mempedulikan rasa lelah. Penduduk kampung lain pun ikut datang membawa makanan dan janur kuning untuk dipasang.

Dalam budaya kita, saling membantu adalah kunci kerukunan. Dengan sopan santun dalam bertutur kata, tidak ada lagi salah paham di antara mereka. Pesta panen sore itu pun berlangsung meriah dan penuh tawa. Lala dan Rani duduk berdampingan sambil menikmati kue tradisional, merasa bangga karena telah bekerja sama menjaga keindahan kampung halaman mereka.

Mereka belajar bahwa perbedaan pendapat bukanlah penghalang, asalkan hati tetap bersih dan saling menghormati satu sama lain.

Komentar