Di sebuah desa yang asri, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Tono. Suatu sore yang cerah, Tono sedang berjalan di jalan kampung yang ramai dengan pohon mangga. Ia baru saja pulang bermain bersama teman-temannya, Budi dan Siti.
Namun, suasana sore itu sedikit berbeda. Tono dan kedua temannya, Budi dan Siti, sedang memiliki pendapat yang berbeda. Mereka sedang berdiskusi tentang di mana sebaiknya mereka memasang hiasan untuk menyambut perayaan desa nanti.
"Menurutku, lebih baik kita pasang di depan gerbang utama saja, supaya semua orang bisa melihatnya," ujar Tono dengan semangat. Namun, Budi menggelengkan kepala. "Tidak, Tono. Lebih bagus kalau kita pasang di dekat balai desa agar terlihat lebih rapi," jawab Budi. Siti pun ikut menimpali dengan pendapat yang berbeda lagi. Suasana sempat hening sejenak karena mereka mulai merasa tidak sepaham.
Tono hampir saja meninggikan suaranya karena merasa pendapatnya paling benar. Namun, tiba-tiba ia teringat pesan ibunya. Ibunya selalu berpesan agar ia selalu menjaga sopan santun, terutama saat berbicara dengan teman, meskipun sedang tidak sependapat.
Tono menarik napas panjang dan mulai menurunkan nada bicaranya. "Maafkan aku ya, Budi dan Siti. Sepertinya aku tadi terlalu memaksakan keinginanku. Bagaimana kalau kita dengarkan alasan masing-masing dengan tenang?" ucap Tono dengan lembut.
Mendengar ucapan Tono yang santun, Budi dan Siti pun merasa tenang. Amarah mereka yang tadi sempat naik perlahan mereda. Mereka akhirnya duduk bersama di pinggir jalan kampung yang teduh. Mereka mulai berbincang dengan kepala dingin, mendengarkan pendapat satu sama lain tanpa memotong pembicaraan.
Setelah berdiskusi dengan santun, akhirnya mereka menemukan jalan tengah. Mereka sepakat untuk memasang hiasan di kedua tempat tersebut dengan jumlah yang sama banyak. Budi dan Siti tersenyum lebar, begitu pula Tono. Mereka merasa senang karena masalah bisa selesai tanpa harus ada pertengkaran.
Ternyata, kunci dari kedamaian bukanlah siapa yang paling benar, melainkan bagaimana cara kita menyampaikan pendapat dengan penuh rasa hormat. Sore itu, Tono belajar bahwa kerukunan akan selalu terjaga jika kita tetap mengedepankan sopan santun dalam setiap tutur kata dan perbuatan kita.
Komentar
Posting Komentar