Di sebuah desa yang asri, hiduplah seorang anak bernama Banyu. Besok, Banyu harus tampil bercerita tentang keindahan tanah air di depan kelas. Namun, rasa takut menyelimuti hatinya. Ia merasa tidak percaya diri dan gemetar setiap kali membayangkan berdiri di depan teman-temannya.
Sore itu, Banyu pergi ke mushola kampung yang terletak di bawah rindangnya pohon beringin tua yang oleh warga disebut Nyi Pohon. Banyu duduk bersimpuh di teras mushola yang kayu lantainya terasa dingin dan menenangkan. Ia menundukkan kepala, menarik napas panjang, dan berbisik pelan, "Aku takut gagal, aku takut tidak bisa bercerita dengan baik.">
Tiba-tiba, angin berhembus lembut menggoyangkan dahan-dahan Nyi Pohon. Seolah mengerti kegelisahan Banyu, suara dedaunan yang bergesekan terdengar bagaikan bisikan penenang. Banyu teringat pesan ibunya bahwa menjadi anak Indonesia yang baik bukan hanya soal pintar bicara, tapi juga soal sopan santun dan ketulusan hati.
"Wahai Nyi Pohon, ajarkan aku agar berani," gumam Banyu dengan lembut. Ia kemudian teringat betapa indahnya tanah airnya, mulai dari sawah yang menghijau hingga keramahan orang-orang di kampungnya. Nilai gotong royong dan kesantunan yang diajarkan di mushola ini memberinya keberanian baru.
Banyu pun mulai berlatih. Ia berbicara dengan sopan, mengatur nada suaranya agar lembut namun jelas, seolah sedang menyapa tetangga di desa. Nyi Pohon yang sudah berdiri tegak selama puluhan tahun seakan menjadi saksi bahwa Banyu kini lebih tenang. Banyu menyadari bahwa rasa takut bisa dikalahkan oleh rasa cinta pada tanah air dan sikap santun yang tulus.
Keesokan harinya, Banyu tampil di kelas dengan penuh percaya diri. Ia tidak lagi gemetar. Ia bercerita tentang keindahan alam dan budaya dengan tutur kata yang sangat sopan. Teman-temannya mendengarkan dengan khidmat. Banyu sadar, berani itu bukan berarti tidak takut, melainkan berani melangkah dengan hati yang bersih dan budi pekerti yang luhur.
Komentar
Posting Komentar