Mentari pagi mulai mengintip dari balik ufuk, menyinari hamparan pasir putih di pinggir pantai yang tenang. Raka sedang asyik membuat sebuah istana pasir yang besar dan kokoh. Ia bekerja dengan penuh semangat, menumpuk pasir basah menjadi menara yang menjulang tinggi.
Tak jauh dari sana, Siti berjalan mendekat sambil membawa sebuah ember kecil berisi air laut. Tanpa sengaja, kaki Siti tersandung gundukan pasir hingga jatuh tepat mengenai salah satu dinding istana buatan Raka. *Bruk!* Dinding istana itu runtuh seketika.
Wajah Raka memerah menahan kesal. Ia hampir saja membentak Siti, namun ia teringat pesan Ibu untuk selalu menjaga kerukunan. Dengan menarik napas dalam-dalam, Raka mencoba bersabar. "Siti, istanaku jadi rusak," ucap Raka dengan nada yang berusaha tenang.
Melihat istana itu hancur, wajah Siti tampak sedih dan menyesal. Ia segera menundukkan kepala. "Maafkan aku, Raka. Aku tidak sengaja. Aku tadi tersandung karena kurang hati-hati," ucap Siti dengan suara yang sangat lembut dan penuh penyesalan.
Raka melihat ketulusan di mata Siti. Kesabaran Raka akhirnya membuahkan hasil. Ia mengangguk dan tersenyum kecil. "Tidak apa-apa, Siti. Aku memaafkanmu. Daripada marah, bagaimana kalau kita membangun ulang istana ini bersama-sama? Pasti akan lebih cepat selesai jika kita bekerja sama," ajak Raka dengan hangat.
Mata Siti berbinar mendengar tawaran itu. Mereka pun mulai duduk berdampingan. Dengan semangat gotong royong, Raka bertugas membentuk menara, sementara Siti dengan cekatan menghias dinding istana menggunakan kerang-kerang indah yang mereka temukan di tepi pantai. Mereka bekerja bahu-membahu dengan riang gembira.
Tidak lama kemudian, istana pasir yang jauh lebih megah dan indah berdiri tegak di bawah sinar matahari pagi. Mereka berdua tertawa bahagia. Di pantai yang damai itu, mereka belajar bahwa dengan kesabaran dan keinginan untuk saling memaafkan, semua masalah bisa diselesaikan dengan kebersamaan yang indah.
Komentar
Posting Komentar