Di sebuah kampung adat yang asri, hiduplah dua sahabat karib bernama Lala dan Nara. Rumah mereka hanya dibatasi oleh pagar bambu rendah yang selalu dipenuhi tanaman bunga. Sore itu, udara terasa sejuk. Lala sedang asyik memetik rambutan di halaman rumahnya untuk diberikan kepada tetangga sekitar sebagai wujud syukur atas panen yang melimpah.
Namun, suasana yang tenang tiba-tiba berubah. Saat Lala menoleh ke arah pagar, ia melihat Nara sedang memegang galah bambu dan tampak menarik dahan pohon rambutan miliknya dengan cukup kuat. Lala merasa sangat sedih dan bingung. Ia berpikir sahabatnya ingin mengambil buah miliknya tanpa meminta izin. Dengan nada sedikit tinggi, Lala menegur, "Nara, kenapa kamu menarik dahan pohonku? Jika ingin rambutan, aku pasti akan memberikannya dengan senang hati."
Nara terkejut dan segera melepaskan galahnya. Wajahnya tampak sedikit malu namun tenang. Dengan lembut, Nara berkata, "Lala, aku tidak bermaksud mengambil buahmu secara diam-diam. Tadi aku melihat ada sarang burung kecil yang jatuh dari dahan yang lebih tinggi. Aku berusaha menahan dahan itu agar sarangnya tidak terjatuh lebih jauh, dan aku berniat membetulkan posisinya agar burung itu aman."
Mendengar penjelasan tersebut, Lala merasa sangat bersalah. Ia menyadari bahwa dirinya terlalu cepat berburuk sangka tanpa bertanya terlebih dahulu. Ia menunduk dengan tulus, lalu meminta maaf kepada Nara. "Maafkan aku, Nara. Aku malah berpikiran buruk padamu, padahal kamu sedang berniat baik menolong makhluk hidup," ucap Lala dengan tulus.
Nara tersenyum manis dan merangkul bahu sahabatnya itu. "Tidak apa-apa, Lala. Kita adalah tetangga sekaligus sahabat. Saling percaya dan menghargai satu sama lain adalah kunci agar persahabatan kita tetap awet, bukan?"
Akhirnya, mereka pun bersama-sama membetulkan posisi sarang burung tersebut. Setelah selesai, mereka duduk di teras sambil menikmati manisnya buah rambutan hasil panen. Peristiwa itu menjadi pelajaran berharga bagi mereka berdua bahwa di dalam hidup bertetangga, komunikasi yang baik dan prasangka yang baik adalah hal yang sangat utama. Kampung adat itu pun kembali damai, diiringi tawa renyah Lala dan Nara yang kembali akur.
Komentar
Posting Komentar