Sore itu, suasana di Mushola Kampung sangat tenang. Angin sepoi-sepoi berhembus pelan, membawa aroma melati dari halaman depan. Timo baru saja selesai mengaji bersama teman-temannya. Ia merasa sangat senang karena hari ini belajarnya lancar sekali.
Saat hendak pulang, Timo terburu-buru mengambil sandal jepit berwarna biru miliknya. Tanpa ia sadari, ia justru memakai sandal milik Pak Haji yang diletakkan persis di sampingnya. Sandal itu tampak mirip, namun milik Pak Haji sedikit lebih besar. “Duh, kok sandal ini terasa longgar sekali ya?” pikir Timo dalam hati, namun ia tetap melangkah pulang dengan tergesa-gesa.
Sesampainya di rumah, Ibu melihat sandal Timo dan bertanya, “Timo, sayang, bukankah sandalku warnanya biru cerah? Mengapa yang kamu pakai warnanya biru tua?” Timo pun terkejut. Ia melihat ke bawah dan menyadari kesalahannya. Hatinya merasa tidak tenang. Ia tahu bahwa mengambil atau memakai milik orang lain tanpa izin, meskipun tidak sengaja, adalah hal yang kurang sopan.
Timo kemudian memberanikan diri untuk kembali ke Mushola Kampung. Di sana, ia melihat Pak Haji sedang berdiri di teras, tampak bingung mencari sandalnya. Dengan langkah pelan dan kepala sedikit menunduk, Timo menghampiri beliau. “Mohon maaf, Pak Haji. Saya tidak sengaja tertukar sandal tadi karena terburu-buru,” ucap Timo dengan suara yang sangat lembut dan sopan.
Pak Haji tersenyum hangat dan mengusap kepala Timo. “Tidak apa-apa, Timo. Bapak sangat menghargai kejujuranmu yang mau kembali lagi ke sini untuk meminta maaf. Itu perbuatan yang mulia,” jawab Pak Haji dengan bijak. Timo merasa lega luar biasa. Ia belajar bahwa sopan santun dan keberanian untuk mengakui kesalahan adalah kunci untuk menjaga kerukunan dengan tetangga.
Malam itu, Timo tidur dengan nyenyak. Ia sadar bahwa dalam bertetangga, kejujuran dan saling menghormati adalah hal yang paling utama. Ia berjanji dalam hati untuk selalu berhati-hati dan tidak terburu-buru lagi agar tidak merugikan orang lain di sekitarnya.
Komentar
Posting Komentar