Matahari pagi baru saja menyembul dari balik cakrawala, menyapu pasir putih di pesisir desa dengan hangat. Dika duduk termenung di atas sebatang kayu yang terdampar, menatap jemarinya yang gemetar. Hari ini adalah hari perlombaan membuat ukiran kerang tingkat desa, namun Dika merasa tidak percaya diri. Ia merasa karyanya tidak akan sebagus milik teman-temannya yang lain.
Tak lama kemudian, Zeno datang menghampiri. Zeno adalah tetua desa yang dikenal bijak dan sangat dihormati. Ia berjalan pelan dengan tongkat bambunya, lalu duduk di samping Dika. "Apa yang membuatmu tampak sedih di pagi seindah ini, anak muda?" tanya Zeno dengan nada yang sangat lembut.
Dika menunduk, lalu menjawab dengan suara pelan, "Kakek Zeno, saya takut. Saya merasa tidak punya kemampuan apa pun. Kerajinan yang saya buat terasa sangat biasa dibandingkan karya anak-anak lainnya. Saya merasa tidak berharga."
Zeno tersenyum, garis-garis di wajahnya membentuk lengkungan yang teduh. Ia menepuk pundak Dika pelan. "Dika, dengarkan Kakek. Menghargai diri sendiri adalah awal dari menghargai orang lain. Namun, ingatlah bahwa setiap hasil karya adalah bentuk penghormatan kepada orang tua yang telah mendidik kita dengan kasih sayang."
Zeno melanjutkan, "Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain. Fokuslah pada ketulusan hatimu saat membuatnya. Jika kamu melakukannya dengan rasa hormat kepada ayah dan ibumu, niscaya hasilnya akan indah dengan caranya sendiri. Itulah nilai luhur yang selalu diajarkan di desa kita."
Mendengar nasihat itu, Dika merasa hatinya lebih tenang. Ia ingat bagaimana ibunya selalu memberinya semangat untuk tidak pernah menyerah. Ia pun mulai mengambil kerang-kerang yang telah ia siapkan. Dengan penuh konsentrasi dan perasaan yang tulus, ia mulai menyusun kerang-kerang tersebut membentuk motif khas daerahnya.
Zeno hanya memperhatikan dalam diam sambil tersenyum bangga. Ia tahu bahwa Dika telah memahami pelajaran terpenting hari itu. Dika menyadari bahwa kemampuannya bukanlah untuk pamer, melainkan untuk memberikan persembahan terbaik bagi orang-orang yang ia sayangi. Suasana pantai pagi itu terasa semakin damai, dibalut dengan rasa syukur dan kebersamaan yang hangat antara seorang anak dan tetuanya.
Komentar
Posting Komentar