Matahari sore bersinar hangat di Lapangan Desa yang hijau. Lala sedang bermain bola sendirian di sana. Dia sangat menyukai lapangan ini karena di sinilah tempat anak-anak desa berkumpul untuk bermain layang-layang atau sekadar berlarian bersama. Namun, sore itu, Lala tidak sengaja menendang bolanya terlalu keras hingga mengenai sebuah bibit pohon langka yang baru saja ditanam Pak RT di pinggir lapangan. Tanaman itu pun patah.
Jantung Lala berdegup kencang. Dia merasa takut dan bingung. "Bagaimana ini?" bisiknya dalam hati. Lala takut ditegur, sehingga dia memutuskan untuk menyembunyikan dahan pohon yang patah itu di balik semak-semak dan segera bergegas pulang. Namun, sepanjang jalan, perasaan Lala tidak tenang. Dia teringat pesan ibunya bahwa mencintai tanah air dimulai dari menjaga lingkungan di sekitar kita sendiri.
Keesokan harinya, warga desa berkumpul di Lapangan Desa untuk kegiatan kerja bakti. Lala melihat Pak RT tampak sedih melihat bibit pohon yang patah itu. Warga desa pun bahu-membahu membersihkan lapangan dengan semangat gotong royong yang kental. Lala berdiri mematung, dadanya terasa sesak karena menyimpan rahasia. Dia sadar bahwa menyembunyikan kesalahan bukanlah sikap seorang anak yang mencintai desanya.
Dengan keberanian yang dia kumpulkan, Lala menghampiri Pak RT yang sedang termenung. "Pak RT, maafkan Lala," ucapnya lirih dengan kepala tertunduk. Lala pun menceritakan kejadian yang sebenarnya. Dia menjelaskan bahwa dia tidak sengaja merusak bibit tersebut dan merasa sangat menyesal. Pak RT mendengarkan dengan sabar, lalu tersenyum lembut sembari mengusap kepala Lala.
"Terima kasih sudah jujur, Lala. Kejujuran adalah langkah awal mencintai negeri ini," ujar Pak RT dengan bijak. Warga desa yang mendengar pun tidak marah. Mereka justru mengajak Lala untuk belajar cara menanam bibit baru bersama-sama. Lala merasa lega dan bahagia. Dia belajar bahwa mencintai tanah air bukan hanya tentang merayakan hari besar, tetapi juga tentang berani bertanggung jawab atas lingkungan tempat kita berpijak.
Sejak hari itu, Lala menjadi anak yang paling rajin merawat pohon di Lapangan Desa. Dia sadar bahwa setiap tunas hijau yang tumbuh adalah napas bagi masa depan desanya. Dengan penuh kasih sayang, Lala memastikan setiap tanaman di sana tumbuh dengan subur, sebagai wujud bakti kecilnya untuk ibu pertiwi.
Komentar
Posting Komentar