Pagi itu, pasar tradisional sedang ramai-ramainya. Bau wangi melati dari pedagang bunga bercampur dengan aroma rempah-rempah yang khas. Bimo, seorang anak laki-laki yang lincah, berjalan cepat sambil membawa keranjang belanjaan milik ibunya. Matanya sibuk mencari penjual sayur langganan di pojok pasar.
Di dekat sebuah lapak pisang, langkah Bimo terhenti. Di depannya, Tono sedang berlari terburu-buru. Karena kurang berhati-hati, Tono tidak sengaja menyenggol seorang nenek tua yang sedang membawa bakul berisi jagung. Jagung-jagung itu pun tumpah berserakan di tanah pasar yang sedikit basah. "Aduh, maaf ya, Nek, aku terburu-buru!" seru Tono tanpa berhenti, ia terus berlari mengejar teman-temannya.
Bimo terdiam sejenak. Ia melihat sang nenek tampak kesulitan membungkuk untuk memungut jagung-jagungnya. Bimo teringat nasihat ibunya bahwa menghormati orang yang lebih tua adalah cerminan budi pekerti anak Indonesia. Dengan sigap, Bimo meletakkan keranjangnya dan menghampiri nenek tersebut.
"Mari saya bantu, Nek," ujar Bimo dengan lembut. Ia berjongkok dan memungut satu per satu jagung yang berserakan. Nenek itu tersenyum manis, kerutan di wajahnya tampak teduh. "Terima kasih ya, Nak. Kamu anak yang sangat baik," ucap nenek itu penuh syukur.
Setelah semua jagung terkumpul kembali ke dalam bakul, Bimo membawakan bakul itu hingga ke depan lapak tempat sang nenek berjualan. Ia merasa hatinya menghangat, sebuah perasaan senang yang muncul karena bisa menolong sesama. Bimo sadar, pasar bukan sekadar tempat jual beli, tetapi juga tempat untuk mempraktikkan kasih sayang dan rasa hormat kepada sesama manusia.
Bimo pun melanjutkan perjalanannya dengan senyum yang lebih cerah. Ia kini tahu bahwa tindakan kecil untuk peduli kepada yang lebih tua adalah wujud nyata cinta tanah air, karena Indonesia dibangun di atas semangat gotong royong dan kesantunan.
Komentar
Posting Komentar