Nino dan Janji di Bawah Nyi Pohon

Di sebuah desa yang asri, terdapat sebuah pasar desa yang selalu ramai. Di tengah pasar itu, berdiri sebatang pohon beringin tua yang sangat besar dan rindang. Penduduk desa memanggilnya Nyi Pohon. Nyi Pohon bukan sekadar pohon, ia adalah saksi bisu tradisi warga yang selalu menjaga kebersihan kampung dengan cara bergotong royong.

Suatu pagi, Nino, seorang anak laki-laki yang rajin, berjalan menuju pasar. Ia melihat pemandangan yang membuatnya sedih. Ada banyak bungkus plastik jajanan berserakan di sekitar akar Nyi Pohon. Orang-orang yang berlalu-lalang tampak acuh tak acuh. Nino merasa cemas, ia tahu bahwa menjaga kebersihan adalah warisan leluhur yang harus dijaga.

Nino memberanikan diri. Ia mengambil sapu lidi di sudut pasar dan mulai membersihkan dedaunan serta sampah plastik di bawah Nyi Pohon. Awalnya, tidak ada yang peduli. Namun, Nino tidak menyerah. Dengan suara yang sopan namun tegas, ia berkata kepada orang-orang di pasar, "Mari kita jaga rumah kita. Nyi Pohon sudah melindungi kita dari panas, sudah sepatutnya kita menghormatinya dengan menjaga kebersihan tempat ini."

Perlahan, sikap berani Nino menyentuh hati warga. Seorang ibu pedagang pasar mendekat dan ikut membantu memungut sampah. Disusul oleh seorang kakek yang membawa alat kebersihan lainnya. Dalam waktu singkat, pasar desa kembali bersih dan asri.

Nino tersenyum menatap Nyi Pohon yang daun-daunnya berdesir tertiup angin. Bagi Nino, keberanian untuk menegur dan memulai kebaikan adalah kunci menjaga tradisi. Ia sadar bahwa kebersihan kampung adalah tanggung jawab bersama, dan dengan bekerja sama, mereka telah melakukan hal yang besar bagi lingkungan mereka.

Sejak hari itu, warga desa semakin rajin menjaga kebersihan pasar. Mereka sadar bahwa menjaga tradisi adalah cara terbaik untuk mencintai kampung halaman. Nino pun merasa bangga, karena ia tahu bahwa keberanian untuk berbuat baik selalu membuahkan hasil yang indah bagi orang banyak.

Komentar