Pagi itu, matahari baru saja muncul dengan malu-malu di ufuk timur. Pantai tampak sangat indah dengan pasir putih yang berkilauan terkena cahaya emas. Dika berjalan menyusuri bibir pantai, menikmati semilir angin yang terasa sejuk di kulit. Ia sedang membawa sebuah kendi tanah liat milik kakeknya yang berhiaskan ukiran bunga yang sangat cantik.
Saking asyiknya memperhatikan kepiting-kepiting kecil yang berlarian, kaki Dika tiba-tiba tersandung akar pohon kelapa. 'Pyar!' Kendi kesayangan itu jatuh dan pecah menjadi beberapa bagian di atas pasir. Dika terdiam, jantungnya berdebar kencang. Ia takut sekali kakeknya akan marah jika tahu kendi itu hancur karena keteledorannya.
Dika segera mengubur pecahan kendi itu ke dalam pasir dalam-dalam. Ia berharap tidak ada seorang pun yang melihat kejadian tadi. Sepanjang hari, hatinya merasa tidak tenang. Ia terus menoleh ke belakang, merasa seolah-olah kendi yang pecah itu terus mengikutinya. Rasa bersalah mulai memenuhi dadanya, membuat suasana pantai yang biasanya menyenangkan kini terasa begitu sunyi dan kelabu bagi Dika.
Keesokan harinya, Dika kembali ke pantai. Kali ini, ia melihat sang Kakek sedang berjalan mendekat dengan wajah teduh. Dika merasa tubuhnya gemetar. Ia tahu, berbohong adalah perbuatan yang tidak sopan, apalagi kepada orang yang lebih tua. Dengan perlahan, Dika menghampiri kakeknya, menundukkan kepala, dan menyalami tangan kakek dengan sopan.
'Kek, Dika minta maaf,' ucap Dika dengan suara yang pelan dan gemetar. 'Kemarin Dika tidak sengaja memecahkan kendi kesayangan Kakek. Dika takut, jadi Dika mengubur pecahannya di pasir. Dika salah karena tidak berani mengakuinya secara jujur.'
Kakek tersenyum hangat, lalu mengelus kepala Dika dengan lembut. 'Dika anak yang baik,' ujar Kakek dengan tenang. 'Benda bisa diperbaiki atau diganti, tapi kejujuran dan keberanian untuk mengakui kesalahan adalah harta yang jauh lebih berharga. Kakek lebih menghargai keberanianmu untuk jujur daripada kendi itu sendiri.'
Mendengar perkataan kakek, hati Dika terasa jauh lebih ringan. Ia sadar bahwa berbuat salah itu manusiawi, namun yang terpenting adalah tanggung jawab untuk mengakui kesalahan dengan jujur. Sejak saat itu, Dika berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu bersikap jujur dan sopan kepada siapa pun, karena itulah nilai utama yang diajarkan oleh kakeknya sebagai anak Indonesia yang baik.
Komentar
Posting Komentar