Si Kecil dan Padi Emas

Mentari pagi menyinari sawah yang luas. Embun masih menempel di ujung-ujung daun padi, berkilauan seperti permata. Di tengah sawah, duduklah seorang anak laki-laki bernama Bima. Ia seharusnya membantu ibunya memanen padi, tapi Bima malah asyik bermain layang-layang.

“Bima, Nak! Sudah pagi sekali. Ayo bantu Ibu memanen padi,” panggil Ibu dari kejauhan. Suara Ibu terdengar lembut, tapi Bima hanya menjawab, “Sebentar lagi, Bu! Aku mau menerbangkan layang-layangku dulu.”

Layang-layang Bima terbang tinggi, menari-nari di antara awan. Ia lupa waktu, lupa akan tugasnya. Sementara itu, Ibu terus bekerja sendiri, memanen padi dengan susah payah. Pak Karto, tetangga mereka yang baik hati, melihat Bima bermain. Ia menghampiri Bima dengan senyum ramah.

“Bima, kenapa tidak bantu Ibu memanen padi? Padi itu sumber kehidupan kita, Nak. Kalau kita tidak bekerja keras, bagaimana kita bisa makan?” tanya Pak Karto dengan bijak.

Bima terdiam. Ia merasa bersalah karena telah menunda-nunda pekerjaannya. Ia menunduk malu. “Maaf, Pak. Aku janji, aku akan segera membantu Ibu,” jawab Bima dengan nada menyesal.

Bima segera berlari menghampiri Ibunya. “Ibu, maafkan Bima. Bima akan bantu Ibu memanen padi,” ucap Bima dengan tulus.

Ibu tersenyum dan mengusap rambut Bima. “Terima kasih, Nak. Bersama-sama, pekerjaan kita akan lebih cepat selesai,” kata Ibu dengan hangat.

Bima dan Ibunya bekerja sama memanen padi. Pak Karto juga ikut membantu. Mereka bekerja dengan semangat gotong royong. Sawah yang luas itu terasa ringan karena ada kebersamaan.

Saat matahari mulai meninggi, padi telah selesai dipanen. Bima merasa lelah, tapi hatinya senang. Ia telah belajar bahwa membantu orang lain itu menyenangkan, dan cinta pada tanah air bisa diwujudkan dengan bekerja keras.

“Terima kasih, Bima, sudah membantu Ibu,” kata Ibu sambil memeluk Bima erat. “Bima anak yang baik dan peduli pada sesama,” lanjut Ibu dengan bangga.

Bima tersenyum. Ia tahu, padi emas yang mereka panen hari ini adalah hasil kerja keras dan cinta mereka pada tanah air.

Komentar