Kancil yang Pemalu

Di sebuah desa yang asri, hiduplah seekor Kancil bernama Kiki. Kiki adalah kancil yang baik hati, tapi ia sangat pemalu. Setiap kali ada yang memanggilnya, Kiki selalu menunduk dan berbicara dengan suara pelan. Suatu hari, Pak Lurah mengumumkan ada acara pentas seni di balai desa.

“Anak-anak desa, mari kita ramaikan pentas seni ini! Siapa saja boleh tampil, menyanyi, menari, atau membawakan cerita,” kata Pak Lurah dengan suara lantang. Semua anak desa bersemangat, kecuali Kiki. Ia merasa gugup dan tidak percaya diri. “Aku tidak bisa tampil di depan banyak orang,” gumam Kiki dalam hati.

Ibunya, Ibu Kancil, melihat Kiki yang murung. “Kiki, kenapa kamu tidak ikut pentas seni? Ibu yakin kamu punya bakat tersembunyi,” kata Ibu Kancil dengan lembut. Kiki menggeleng. “Aku takut, Bu. Aku tidak pandai seperti teman-teman yang lain.”

Tiba-tiba, datanglah Mbah Buyut, kancil yang bijaksana dan dihormati di desa itu. Mbah Buyut tersenyum melihat Kiki. “Kiki, setiap orang punya kelebihan masing-masing. Jangan takut untuk mencoba. Sopan santun itu penting, tapi jangan sampai rasa malu membuatmu tidak berani menunjukkan diri,” nasihat Mbah Buyut.

Kiki terdiam sejenak. Ia teringat pesan ibunya dan nasihat Mbah Buyut. Ia menarik napas dalam-dalam dan memutuskan untuk mencoba. Kiki mendaftarkan diri untuk membawakan cerita tentang asal-usul desa mereka. Saat tiba gilirannya, Kiki awalnya masih gugup. Namun, ia ingat pesan Mbah Buyut tentang sopan santun. Ia berdiri tegak, menatap penonton dengan ramah, dan mulai bercerita dengan suara yang lebih lantang dari biasanya.

Penonton terhibur dengan cerita Kiki. Mereka tertawa dan bersorak. Kiki merasa senang dan percaya diri. Setelah selesai bercerita, Pak Lurah memberikan Kiki tepuk tangan meriah. “Bagus sekali, Kiki! Kamu hebat!” puji Pak Lurah.

Sejak saat itu, Kiki tidak lagi terlalu pemalu. Ia belajar bahwa rasa percaya diri itu penting, tapi tetap harus menjaga sopan santun. Ia juga belajar bahwa setiap orang punya kelebihan masing-masing, dan tidak ada salahnya untuk mencoba hal baru. Kiki pun menjadi kancil yang ceria dan disukai oleh semua orang di desa.

Komentar