
Mentari pagi menyinari sawah hijau yang luas. Embun masih menempel di ujung-ujung daun padi. Di tengah sawah, hiduplah seekor kura-kura bernama Kura. Kura sedang berjalan perlahan mencari makan.
Tiba-tiba, Kura melihat sesuatu yang menggiurkan. Sebuah buah mangga matang, kuning ranum, jatuh dari pohon mangga di tepi sawah. “Wah, mangga! Aku suka sekali mangga!” Kura berpikir dalam hati.
Namun, mangga itu berada agak jauh. Kura harus berjalan lebih jauh lagi. Ia mulai berjalan, tapi jalannya semakin lambat karena ia ingin segera memakan mangga itu. Ia juga merasa lelah.
Saat Kura sedang beristirahat, ia melihat Bibi Itik sedang mengumpulkan padi yang berjatuhan. Bibi Itik terlihat sangat sibuk dan sedikit tergesa-gesa. Kura ingin membantu, tapi ia teringat mangga yang sudah dekat.
“Bibi Itik, sedang apa?” tanya Kura sopan.
“Aku sedang mengumpulkan padi yang berjatuhan, Kura. Nanti aku berikan untuk keluargaku,” jawab Bibi Itik sambil terus memungut padi.
Kura berpikir sejenak. “Sebaiknya aku bantu Bibi Itik dulu. Meskipun aku ingin makan mangga, membantu sesama itu lebih penting.” Kura kemudian membantu Bibi Itik mengumpulkan padi.
Setelah selesai membantu, Kura melanjutkan perjalanannya menuju mangga. Ternyata, mangga itu sudah tidak ada! Seekor monyet sudah memakannya terlebih dahulu.
Kura merasa sedikit kecewa, tapi ia tidak bersedih terlalu lama. Ia teringat kebaikan yang telah ia lakukan membantu Bibi Itik. Tiba-tiba, Bibi Itik datang menghampiri Kura.
“Terima kasih sudah membantuku, Kura. Sebagai gantinya, ini aku berikan beberapa butir padi untukmu,” kata Bibi Itik sambil memberikan beberapa butir padi.
Kura tersenyum senang. “Terima kasih, Bibi Itik! Aku jadi tahu, meskipun aku tidak mendapatkan mangga, membantu sesama itu jauh lebih menyenangkan.” Kura pun pulang ke rumah dengan hati gembira.
Sejak saat itu, Kura selalu berusaha untuk bersabar dan peduli terhadap sesama. Ia belajar bahwa kebaikan akan selalu membalas.
Komentar
Posting Komentar