Kura-Kura dan Jala Rusak

Di sebuah kampung nelayan yang asri, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Banyu. Banyu sangat suka membantu ayahnya, Pak Surya, memperbaiki jala. Setiap sore, setelah bermain di pantai, Banyu selalu ikut merapikan jala yang sudah usang.

Suatu hari, Pak Surya sedang sibuk memperbaiki perahu. Banyu yang semangat, ingin sekali membantu. Ia mengambil jala yang sudah diperbaiki ayahnya kemarin. “Aku bantu lipat, Pak!” seru Banyu.

Tanpa sengaja, Banyu menginjak bagian jala yang baru diperbaiki. “Aduh!” Banyu terkejut. Bagian jala itu robek lagi. Ia sangat sedih dan takut melihat ayahnya.

Pak Surya menoleh. Ia melihat jala yang robek dan wajah Banyu yang murung. Awalnya, Pak Surya terlihat kecewa. Namun, ia menarik napas dalam-dalam dan mendekati Banyu.

“Banyu, kenapa bisa seperti ini?” tanya Pak Surya lembut.

Banyu menunduk. “Ma-maaf, Pak. Aku tidak sengaja menginjaknya,” jawab Banyu lirih. Ia merasa sangat bersalah.

Pak Surya tersenyum. “Tidak apa-apa, Nak. Semua orang pernah melakukan kesalahan. Yang penting, kita belajar dari kesalahan itu. Sekarang, bantu Bapak perbaiki lagi, ya?”

Banyu mengangguk semangat. Ia membantu ayahnya menjahit jala yang robek. Meskipun awalnya merasa takut, Banyu belajar untuk percaya diri mengakui kesalahannya dan memperbaikinya bersama ayahnya. Ia tahu, kejujuran dan kerja keras akan membuat semuanya menjadi lebih baik.

Sejak saat itu, Banyu semakin rajin membantu ayahnya. Ia juga belajar untuk lebih berhati-hati dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Ia mengerti, menjaga tradisi melaut adalah tanggung jawab bersama, dan ia bangga menjadi bagian dari kampung nelayannya.

Komentar