Kura-Kura dan Janji

Di sebuah kampung adat yang asri, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Bimo. Bimo sangat menyayangi kura-kuranya, Si Kura. Si Kura bukan sembarang kura-kura, ia adalah hadiah dari Nenek Ratih, seorang penenun kain batik terkenal di kampung itu.

Suatu sore, Bimo bermain di tepi sungai bersama Si Kura. Ia meletakkan Si Kura di atas batu besar agar bisa berjemur. Namun, saat Bimo beranjak untuk mencari air minum, Si Kura menghilang! Bimo panik. Ia mencari ke sana kemari, memanggil-manggil Si Kura, tapi tak ada jawaban.

“Si Kura! Si Kura, di mana kamu?” teriak Bimo sedih. Air matanya mulai menetes.

Tiba-tiba, Pak Surya, seorang petani yang sedang melintas, menghampiri Bimo. “Kenapa kamu menangis, Nak?” tanya Pak Surya dengan lembut.

Bimo menceritakan tentang kura-kuranya yang hilang. Pak Surya tersenyum. “Jangan bersedih, Bimo. Kita cari bersama-sama,” ujarnya.

Mereka mencari Si Kura ke seluruh penjuru kampung. Akhirnya, mereka menemukan Si Kura di dekat rumah Nenek Ratih. Ternyata, Si Kura sedang mengagumi kain batik baru yang sedang ditenun oleh Nenek Ratih.

“Si Kura! Kamu di sini saja!” seru Bimo lega sambil memeluk Si Kura erat-erat. Ia lalu meminta maaf kepada Si Kura karena telah meninggalkannya sebentar.

Nenek Ratih mendekat. “Bimo, Si Kura suka sekali dengan warna-warni kain batik. Ia ingin belajar menenun seperti Nenek,” kata Nenek Ratih sambil tersenyum. “Ingat, Bimo, menjaga tradisi itu penting. Kain batik adalah warisan nenek moyang kita. Kita harus menjaganya dan melestarikannya.”

Bimo mengangguk mengerti. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menjaga Si Kura dan belajar tentang kain batik dari Nenek Ratih. Ia juga berjanji untuk selalu berempati kepada semua makhluk hidup, termasuk Si Kura kesayangannya. Sejak saat itu, Bimo semakin rajin membantu Nenek Ratih menenun kain batik, sambil ditemani Si Kura yang setia di sisinya.
Bimo belajar bahwa kehilangan bisa membuat sedih, tapi dengan bantuan dan kasih sayang, semuanya akan kembali baik-baik saja.

Komentar