
Di sebuah kampung nelayan yang asri, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Bayu. Bayu sangat suka bermain layang-layang di tepi pantai, melupakan tugasnya membantu Kakek Surya, seorang nelayan yang sudah renta. Kakek Surya selalu mengingatkan Bayu tentang pentingnya menjaga tradisi menangkap ikan dengan cara yang baik dan benar, serta saling membantu sesama nelayan.
“Bayu, Nak, nanti sore kita harus segera pergi memulung jaring. Banyak ikan yang terperangkap,” kata Kakek Surya suatu sore, sambil membetulkan jaringnya. Bayu hanya mengangguk malas, matanya masih tertuju pada layang-layang yang terbang tinggi di langit.
Saat sore menjelang, teman-teman Bayu mengajak bermain bola. Bayu lupa dengan janjinya pada Kakek Surya. Ia asyik bermain bola bersama teman-temannya, hingga matahari mulai tenggelam. Tiba-tiba, ia teringat Kakek Surya yang sendirian menunggu di tepi pantai.
Dengan perasaan bersalah, Bayu segera berlari ke pantai. Ia melihat Kakek Surya tampak kelelahan. “Kakek, maafkan Bayu. Bayu lupa!” ucap Bayu dengan nada menyesal.
Kakek Surya tersenyum lembut. “Tidak apa-apa, Nak. Tapi ingat, menjaga tradisi dan saling membantu itu penting. Sekarang, mari kita memulung jaring bersama.”
Bayu membantu Kakek Surya memulung jaring. Ternyata, banyak nelayan lain juga kesulitan. Tanpa ragu, Bayu dan Kakek Surya membantu mereka. Mereka bekerja sama, saling menguatkan, hingga semua jaring berhasil dipulung.
“Terima kasih, Bayu dan Kakek Surya,” kata Pak Harjo, salah seorang nelayan. “Dengan gotong royong, pekerjaan berat pun terasa ringan.”
Bayu tersenyum lebar. Ia mengerti sekarang, bahwa menjaga tradisi dan saling membantu adalah kunci kebahagiaan di kampung halamannya. Sejak saat itu, Bayu tidak pernah lagi menunda tanggung jawabnya dan selalu siap membantu Kakek Surya dan sesama nelayan.
Malam harinya, sambil menikmati ikan bakar hasil tangkapan mereka, Bayu bertanya pada Kakek Surya, “Kakek, kenapa tradisi ini penting sekali?”
Kakek Surya menjawab, “Tradisi ini mengajarkan kita untuk menghormati laut, menjaga kelestariannya, dan saling peduli satu sama lain. Jika kita melupakan tradisi, kita akan kehilangan jati diri kita sebagai nelayan.”
Bayu mengangguk paham. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menjaga tradisi dan saling membantu, demi kampung halamannya yang tercinta.
Komentar
Posting Komentar