
Di tengah hutan pinus yang tinggi menjulang, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Bima. Bima sangat suka bermain, tapi kadang kala ia lupa untuk mendengarkan nasihat Ibunya. Suatu hari, Ibunya berpesan, “Bima, jangan bermain terlalu jauh ke dalam hutan, ya. Nanti malam datang dan kamu tersesat.”
Bima mengangguk, tapi begitu Ibunya masuk ke rumah, ia langsung berlari mengejar kupu-kupu cantik. Ia semakin jauh, semakin jauh, hingga tak sadar sudah berada di tengah hutan yang gelap. Ia melihat seekor kancil sedang makan rumput. Bima ingin sekali menangkap kancil itu, tapi ia malah mendorong kancil tersebut hingga terjatuh.
“Aduh!” Kancil itu meringis kesakitan. Bima baru sadar, ia telah melakukan kesalahan. Ia merasa bersalah karena telah menyakiti kancil. Ia teringat pesan Ibunya tentang sopan santun dan menghormati semua makhluk hidup.
Dengan ragu-ragu, Bima mendekati kancil. “Maafkan aku, Kancil. Aku tidak sengaja mendorongmu.” Bima menundukkan kepalanya, malu. Kancil itu menatap Bima dengan mata sayu.
“Tidak apa-apa, Bima. Tapi lain kali, bermainlah dengan hati-hati dan jangan menyakiti siapa pun,” kata kancil dengan lembut. Bima mengangguk dan membantu kancil bangkit. Ia kemudian meminta maaf pada pohon pinus yang ia sentuh saat berlari.
Saat Bima berbalik, ia melihat Ibunya sedang mencarinya. “Bima! Kamu di mana saja? Ibu sudah khawatir!” Ibunya menghampiri Bima dan memeluknya erat. Bima membalas pelukan Ibunya dan meminta maaf karena telah membangkang.
“Ibu maafkan Bima. Bima janji tidak akan membangkang lagi dan selalu mendengarkan nasihat Ibu,” kata Bima dengan tulus. Ibunya tersenyum dan mengusap rambut Bima. Mereka berjalan pulang bersama, meninggalkan hutan pinus yang mulai gelap.
Sejak saat itu, Bima selalu ingat untuk meminta maaf jika melakukan kesalahan dan selalu mendengarkan nasihat Ibunya. Ia belajar bahwa disiplin dan sopan santun adalah kunci untuk menjadi anak yang baik.
Komentar
Posting Komentar