Si Ikan dan Janji Arang

Di sebuah kampung nelayan yang asri, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Arang. Arang dikenal sebagai anak yang lincah dan suka bermain, tetapi kadang kala ia suka menunda-nunda pekerjaan. Suatu hari, Ayah Arang meminta bantuannya untuk memperbaiki jala ikan sebelum matahari terbit.

“Arang, tolong Ayah perbaiki jala ini ya, Nak. Besok pagi kita harus melaut,” pesan Ayah dengan lembut. Arang mengangguk, “Baik, Ayah!” Namun, setelah Ayah pergi, Arang malah asyik bermain layang-layang bersama teman-temannya. Ia berjanji pada diri sendiri, “Nanti saja diperbaiki, masih pagi.”

Malam harinya, seorang ikan kecil bernama Kura datang menemui Arang. Kura adalah ikan yang bijaksana dan sering memberi nasihat. “Arang, kenapa kamu terlihat murung?” tanya Kura.

“Aku harus memperbaiki jala ikan, tapi aku malah bermain. Aku takut Ayah kecewa,” jawab Arang lesu.

Kura tersenyum. “Menunda pekerjaan memang terasa enak, tapi akibatnya bisa jadi lebih berat. Ingatlah, kejujuran dan tanggung jawab adalah kunci keberanian. Ayahmu pasti menghargai usahamu, meskipun hasilnya tidak sempurna.”

Kata-kata Kura membuat Arang tergerak. Ia segera bangkit dan mulai memperbaiki jala ikan. Meskipun awalnya terasa sulit, Arang terus berusaha dengan tekun. Ia ingat pesan Kura tentang keberanian. Ia juga ingat wajah Ayahnya yang selalu tersenyum padanya.

Keesokan paginya, jala ikan sudah selesai diperbaiki, meskipun masih ada beberapa bagian yang kurang rapi. Ayah Arang terkejut dan tersenyum bangga melihat usaha Arang. “Wah, hebat! Ayah tahu kamu pasti bisa. Terima kasih, Arang!”

Arang tersenyum lebar. Ia merasa sangat senang karena telah menyelesaikan tanggung jawabnya. Ia belajar bahwa sopan santun dan menepati janji itu penting. Sejak saat itu, Arang tidak lagi menunda-nunda pekerjaan dan selalu berusaha melakukan yang terbaik.

Kura, si ikan kecil, tersenyum melihat Arang dari kejauhan. Ia tahu, Arang telah tumbuh menjadi anak yang berani dan bertanggung jawab.

Komentar