
Di sebuah desa yang asri, hiduplah seekor Kancil yang lincah bernama Kiko. Kiko dikenal suka bermain di lapangan desa bersama teman-temannya. Suatu hari, Bu Sinta, tetangga yang baik hati, membuat kue apem yang harum mewangi seluruh desa. Aroma itu membuat perut Kiko keroncongan.
Kiko melihat kue apem itu dari kejauhan. Tanpa pikir panjang, ia menyelinap masuk ke rumah Bu Sinta dan mengambil sepotong kue apem. Bu Sinta yang sedang menyiram tanaman melihat Kiko mencuri kue apemnya. Ia merasa kecewa dan marah.
“Kiko! Kenapa kamu mengambil kue apemku tanpa izin?” tanya Bu Sinta dengan nada kesal. Kiko hanya menunduk malu. Ia merasa bersalah karena telah membuat Bu Sinta marah. Teman-teman Kiko, yaitu Burung Pipit dan Tupai Ciko, datang menghampiri. Mereka melihat Kiko sedang bersedih.
“Kenapa, Kiko?” tanya Pipit.
“Aku… aku mencuri kue apem Bu Sinta,” jawab Kiko lirih. “Aku sangat menyesal.”
Ciko menimpali, “Kiko, kamu harus meminta maaf kepada Bu Sinta. Itu adalah hal yang benar untuk dilakukan.”
Dengan memberanikan diri, Kiko menghampiri Bu Sinta. “Bu Sinta, maafkan Kiko ya. Kiko janji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi,” ucap Kiko tulus. Bu Sinta tersenyum melihat Kiko yang menyesal. Ia mengelus kepala Kiko dengan lembut.
“Tidak apa-apa, Kiko. Tapi ingat, kita harus selalu meminta izin sebelum mengambil sesuatu milik orang lain. Itu adalah tanggung jawab kita sebagai tetangga,” kata Bu Sinta bijak. Bu Sinta kemudian memberikan Kiko sepotong kue apem sebagai tanda maaf. Kiko sangat senang dan berterima kasih kepada Bu Sinta.
Sejak saat itu, Kiko selalu ingat untuk meminta izin dan bertanggung jawab atas perbuatannya. Ia belajar bahwa rukun bertetangga itu penting dan meminta maaf adalah cara yang baik untuk memperbaiki kesalahan. Kiko, Pipit, dan Ciko kembali bermain di lapangan desa dengan gembira, saling menjaga dan membantu satu sama lain.
Lapangan desa itu selalu ramai dengan tawa dan kebersamaan, bukti bahwa gotong royong dan saling menyayangi adalah keindahan hidup di desa.
Komentar
Posting Komentar