
Di sebuah desa hijau yang asri, hiduplah seekor Kancil yang lincah bernama Kiko. Kiko dikenal suka bermain dan kadang kala kurang hati-hati. Di desa itu juga, ada seorang Nenek yang baik hati bernama Marni. Nenek Marni terkenal dengan kue cucurnya yang manis dan lezat.
Suatu sore, Kiko sedang asyik bermain petak umpet bersama teman-temannya. Tanpa sengaja, saat berlari, ia menabrak meja tempat Nenek Marni sedang meletakkan kue cucur buatannya. “Aduh!” seru Kiko kaget. Kue cucur berhamburan ke tanah.
Nenek Marni yang melihat kejadian itu, awalnya terkejut. Namun, ia berusaha menenangkan diri. “Kiko, kamu tidak apa-apa?” tanya Nenek Marni lembut. Kiko hanya bisa menunduk malu. Ia merasa sangat bersalah karena telah merusak kue cucur Nenek Marni.
Teman-teman Kiko yang lain menghampiri. Mereka membantu memungut kue cucur yang masih bisa diselamatkan. “Kiko, kamu harus minta maaf sama Nenek Marni,” kata Rina, salah satu temannya.
Kiko menarik napas dalam-dalam. Dengan suara pelan, ia berkata, “Nenek, maafkan Kiko ya. Kiko tidak sengaja. Kiko janji akan lebih hati-hati lagi.” Nenek Marni tersenyum. “Tidak apa-apa, Kiko. Yang penting kamu sadar dan minta maaf. Nenek juga harusnya lebih berhati-hati lagi menaruh kue.”
Nenek Marni kemudian membagi kue cucur yang tersisa kepada Kiko dan teman-temannya. Mereka makan kue cucur bersama-sama sambil tertawa riang. Kiko belajar bahwa meminta maaf itu penting, dan saling menghargai adalah kunci untuk hidup rukun bertetangga. Sejak saat itu, Kiko selalu berusaha untuk lebih berhati-hati dan membantu Nenek Marni.
Komentar
Posting Komentar