Si Kancil dan Sawah Bersih

Mentari pagi menyinari sawah yang hijau. Kancil sedang asyik mencari makan di antara batang padi. Tiba-tiba, ia melihat banyak sampah berserakan: botol plastik, bungkus makanan, dan daun-daun kering.

“Aduh, sawah kita jadi kotor sekali,” keluh Kancil. Ia lalu bertemu dengan Bapak Tani yang sedang memeriksa tanaman. “Bapak Tani, lihatlah! Sawah kita penuh sampah!”

Bapak Tani menghela napas. “Benar sekali, Kancil. Ini memang masalah besar. Kalau sawah kotor, padi tidak bisa tumbuh subur.”

Kemudian, Ibu Desa lewat sambil membawa keranjang. Kancil dan Bapak Tani menghampirinya. “Ibu Desa, bisakah kita gotong royong membersihkan sawah?” tanya Kancil.

Ibu Desa tersenyum. “Tentu saja! Gotong royong itu cara kita di Indonesia. Ayo, kita ajak semua warga kampung!”

Dengan semangat, Kancil, Bapak Tani, dan Ibu Desa mengajak warga kampung untuk membersihkan sawah. Udin dan Siti, dua anak kecil yang sedang bermain, juga ikut membantu memungut sampah. Mereka bekerja sama dengan riang gembira.

Setelah beberapa jam, sawah kembali bersih dan indah. Padi-padi terlihat segar dan hijau. Kancil melompat-lompat kegirangan.

“Terima kasih semuanya!” kata Ibu Desa. “Dengan menjaga kebersihan, kita menjaga kampung kita dan menghargai orang lain. Sawah yang bersih akan menghasilkan padi yang melimpah, dan kita semua bisa hidup sejahtera.”

Bapak Tani mengangguk setuju. “Benar sekali, Ibu Desa. Mari kita jaga kebersihan kampung kita, agar selalu menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali.”

Kancil tersenyum lebar. Ia belajar bahwa menjaga kebersihan adalah tanggung jawab bersama dan merupakan wujud rasa hormat terhadap lingkungan dan sesama.

Komentar