
Di sebuah sekolah desa yang asri, hiduplah seekor Kancil bernama Kiko. Kiko dikenal cerdik, tapi kadang suka keras kepala. Hari itu, Bu Hani, guru yang baik hati, sedang menata tumpukan buku pinjaman untuk murid-murid. “Ayo, anak-anak, bantu Bu Hani menata buku agar rapi!” seru Bu Hani dengan senyumnya.
Kiko dengan semangat ikut membantu. Ia mengangkat beberapa buku dan meletakkannya di meja. Namun, tanpa sengaja, ia menjatuhkan tumpukan buku lainnya. Buku-buku itu berhamburan di lantai. Kiko terkejut dan merasa bersalah. Ia melihat teman-temannya, si Tupai Cici dan si Burung Pipit Pipi, menatapnya.
Kiko merasa malu. Ia berpikir, “Bagaimana kalau aku menyalahkan angin saja? Angin yang membuat buku-buku ini jatuh.” Ia mulai mencari alasan. “Aduh, Bu Hani, maafkan Kiko! Tadi ada angin kencang yang menerbangkan buku-buku ini!” ujarnya dengan nada sedih.
Bu Hani tersenyum lembut. “Kiko, Bu Hani tahu kamu tidak bermaksud menjatuhkan buku. Kejadian seperti ini bisa saja terjadi. Tapi, lebih baik kita jujur saja, ya?” Bu Hani menatap Kiko dengan bijaksana. Cici si Tupai dan Pipi si Burung Pipit saling pandang.
Kiko terdiam. Ia menunduk malu. Akhirnya, dengan suara pelan, ia berkata, “Maafkan Kiko, Bu Hani. Kiko yang menjatuhkan buku. Kiko tidak berani mengaku karena takut dimarahi.”
Bu Hani mengangguk. “Tidak apa-apa, Kiko. Yang penting kamu sudah jujur. Sekarang, mari kita bereskan bersama-sama. Ini namanya gotong royong, Kiko. Kita saling membantu.” Bu Hani, Kiko, Cici, dan Pipi bersama-sama memungut buku-buku yang berserakan. Mereka tertawa dan bekerja dengan riang.
Sejak saat itu, Kiko belajar bahwa kejujuran itu penting. Ia juga belajar bahwa gotong royong membuat pekerjaan menjadi lebih mudah dan menyenangkan. “Lebih baik jujur dan meminta maaf daripada mencari alasan,” kata Kiko pada dirinya sendiri. Ia pun berjanji akan selalu jujur dan membantu teman-temannya.
Komentar
Posting Komentar