
Di sebuah desa hijau yang asri, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Bima. Bima dikenal suka bermain dan kadang lupa membantu orang tua. Suatu hari, Bima sedang asyik mengejar kupu-kupu di halaman rumahnya.
Tiba-tiba, ia mendengar suara tangis dari rumah tetangga, rumah Bu Sinta. Bu Sinta adalah seorang janda tua yang baik hati. Bima berlari mendekat dan melihat Bu Sinta sedang kesulitan membawa kayu bakar yang berat. Kayu-kayu itu berserakan di halaman.
“Aduh, aduh, berat sekali!” Bu Sinta mengeluh sambil memegangi punggungnya. Bima yang biasanya hanya lewat, kali ini berhenti. Ia teringat pesan ayahnya, “Bantu selalu tetangga yang kesulitan, Bima. Itu adalah budi pekerti yang baik.”
Dengan ragu-ragu, Bima mendekati Bu Sinta. “Ibu, Bima bantu ya!” tawar Bima dengan malu-malu. Bu Sinta tersenyum lebar. “Wah, baik sekali kamu, Bima. Terima kasih banyak.”
Bima mulai mengumpulkan kayu-kayu yang berserakan dan menumpuknya rapi. Ia juga membantu Bu Sinta mengangkat kayu bakar ke dalam rumah. Meskipun terasa berat, Bima melakukannya dengan sabar. Bu Sinta terus memberikan semangat.
Setelah selesai, Bu Sinta memberikan Bima segelas es teh manis. “Terima kasih banyak, Bima. Kamu anak yang baik dan berbakti.” kata Bu Sinta sambil mengelus kepala Bima.
Bima tersenyum senang. Ia merasa bahagia karena bisa membantu Bu Sinta. Sejak saat itu, Bima selalu ingat untuk membantu tetangga yang kesulitan. Ia belajar bahwa kesabaran dan kebaikan hati akan membawa kebahagiaan bagi diri sendiri dan orang lain. Ia juga semakin rajin membantu ibunya di rumah.
Ayah Bima yang melihat kebaikan hatinya, sangat bangga. “Anakku memang hebat! Rukun bertetangga itu penting, Bima. Kita harus saling membantu dan menjaga.”
Komentar
Posting Komentar