Si Kecil dan Buah Semangka

Di tengah pasar desa yang ramai, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Bimo. Bimo sangat suka bermain di pasar, terutama saat melihat pedagang-pedagang menjajakan dagangannya. Suatu hari, matanya tertuju pada sebuah semangka merah besar yang diletakkan di gerobak Pak Tani.

Semangka itu terlihat sangat segar dan manis. Bimo sangat menginginkannya, tetapi ia tidak punya uang. Ia hanya punya beberapa kelereng kesayangannya. Dengan ragu, Bimo menghampiri Pak Tani.

“Pak Tani, bolehkah aku minta semangka itu? Aku tidak punya uang, tapi aku punya kelereng ini,” kata Bimo sambil menunjukkan kelerengnya. Pak Tani tersenyum ramah. “Kelerengmu bagus, Bimo. Tapi semangka ini besar sekali. Bagaimana kalau kita bergiliran? Kamu main kelereng denganku, lalu aku potongkan semangka untukmu.”

Bimo sangat senang. Ia segera bermain kelereng dengan Pak Tani. Mereka bermain dengan riang, saling tertawa dan bersorak. Namun, Bimo merasa sedikit tidak enak karena terus-terusan menang. Ia melihat Pak Tani mulai terlihat lelah.

“Pak Tani, aku berhenti bermain. Kamu istirahat saja,” kata Bimo dengan jujur. Pak Tani terkejut. “Kenapa, Bimo? Kamu kan suka bermain.”

“Aku tidak ingin membuat Bapak lelah. Bapak kan harus berjualan juga,” jawab Bimo dengan malu-malu. Pak Tani tersenyum bangga. “Bimo anak yang baik dan jujur. Bapak sangat menghargainya.”

Pak Tani kemudian memotong semangka itu menjadi beberapa bagian. Ia memberikan potongan semangka yang besar kepada Bimo. “Ini, Bimo. Nikmati semangkanya. Bapak senang bisa bermain denganmu.”

Bimo memakan semangka itu dengan lahap. Rasanya sangat manis dan segar. Ia belajar bahwa kejujuran dan berbagi itu jauh lebih menyenangkan daripada menang terus-terusan. Sejak saat itu, Bimo dan Pak Tani sering bermain kelereng bersama di pasar desa, saling bergantian dan berbagi kebahagiaan.


Bimo belajar bahwa rukun bertetangga itu penting, dan kejujuran adalah kunci untuk mendapatkan kepercayaan orang lain.

Komentar