Si Kecil dan Janji Lomba

Di sebuah kampung adat yang asri, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Bima. Bima dikenal lincah dan pandai membuat layang-layang. Setiap tahun, kampungnya mengadakan lomba layang-layang yang sangat dinanti. Tahun ini, Bima berjanji pada Nenek Sekar, sesepuh kampung yang bijaksana, bahwa ia akan membuat layang-layang Garuda yang gagah.

Bima bekerja keras. Ia memotong bambu, membungkusnya dengan kertas warna-warni, dan membuat ekor layang-layang yang panjang. Namun, saat hampir selesai, ia tidak sengaja menjatuhkan layang-layang Garuda itu. Sayapnya patah! Bima panik. Ia takut mengecewakan Pak Surya, ketua panitia lomba, dan Kak Rini, teman-temannya yang selalu mendukungnya.

“Aduh, bagaimana ini?” Bima bergumam sedih. Ia berpikir untuk menyembunyikan layang-layang yang rusak itu dan membuat alasan agar tidak ikut lomba. Ia merasa malu mengakui kesalahannya.

Nenek Sekar melihat Bima yang murung. Ia mendekat dan bertanya, “Ada apa, Bima?” Bima menceritakan kejadian yang menimpanya. Nenek Sekar tersenyum lembut. “Bima, mengakui kesalahan bukanlah tanda kelemahan, tetapi tanda keberanian. Disiplin berarti bertanggung jawab atas tindakan kita. Memperbaiki layang-layang Garuda itu akan lebih membanggakan daripada membuat alasan.”

Bima terdiam sejenak. Ia teringat pesan Nenek Sekar. Ia kemudian meminta maaf pada Nenek Sekar dan meminta bantuannya untuk memperbaiki layang-layang Garuda. Dengan sabar, Nenek Sekar membimbing Bima. Mereka bersama-sama memperbaiki sayap layang-layang itu dengan lebih kuat dari sebelumnya.

Pada hari lomba, layang-layang Garuda buatan Bima terbang tinggi di angkasa. Ia tidak menang juara pertama, tetapi ia mendapatkan tepuk tangan meriah dari seluruh kampung. Pak Surya tersenyum bangga. “Bima, kamu telah menunjukkan sikap disiplin dan keberanian. Itu jauh lebih berharga daripada sekadar menang lomba.” Kak Rini menghampiri Bima dan memeluknya. “Kamu hebat, Bima! Aku bangga padamu!” Bima tersenyum lebar. Ia belajar bahwa kejujuran dan disiplin adalah kunci untuk meraih hal yang lebih berharga.


Sejak saat itu, Bima selalu berusaha bertanggung jawab atas setiap tindakannya. Ia menjadi contoh bagi anak-anak kampung lainnya tentang pentingnya kejujuran dan disiplin.

Komentar