Si Kecil dan Pesta Panen

Di sebuah desa yang asri, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Bimo. Bimo sangat suka bermain, tapi ia sering menunda membantu ibunya menyiapkan pasar desa. Setiap tahun, desa mereka mengadakan pesta panen yang meriah. Semua warga gotong royong menyiapkan makanan lezat dan hasil bumi terbaik.

“Bimo, tolong bantu Ibu menyiapkan kue cucur untuk pasar ya, Nak,” pinta Ibu dengan senyum lembut. Bimo yang sedang asyik membuat layang-layang hanya menjawab, “Nanti saja, Bu. Bimo mau menyelesaikan layang-layang dulu.”

Hari pesta panen pun tiba. Pasar desa ramai sekali! Aroma kue cucur, nasi liwet, dan berbagai makanan menggoda perut. Namun, Ibu Bimo terlihat sedih. “Ibu tidak sempat membuat kue cucur cukup banyak karena Bimo belum membantu,” kata Ibu lirih.

Bimo merasa bersalah. Ia melihat teman-temannya sibuk membantu orang tua mereka. Rini sedang membantu ayahnya menjajakan sayuran, dan Dedi membantu kakeknya membuat ketupat. Bimo sadar, menunda pekerjaan hanya membuat masalah.

Dengan sigap, Bimo menghampiri Ibunya. “Bimo minta maaf, Bu. Bimo akan bantu Ibu membuat kue cucur sekarang!” Bimo segera membantu Ibunya mengaduk adonan dan menggoreng kue cucur. Meskipun awalnya terasa berat, Bimo melakukannya dengan semangat.

Kue cucur buatan Bimo dan Ibunya ternyata sangat lezat! Banyak sekali yang membeli. Ibu tersenyum bahagia. “Terima kasih, Bimo. Ibu bangga padamu,” ucap Ibu sambil mengusap rambut Bimo.

Pesta panen semakin meriah. Bimo belajar bahwa gotong royong dan menyelesaikan tanggung jawab adalah hal yang penting. Ia juga belajar bahwa membantu orang tua adalah bentuk cinta tanah air, karena dengan begitu, kita ikut menjaga kebersamaan dan tradisi desa.

“Kerja sama membuat kita kuat, Nak,” kata Ibu sambil tersenyum.

Komentar