
Di sebuah desa yang asri, di pinggir sawah yang menghijau, hiduplah seorang anak perempuan bernama Kirana. Kirana sangat menyayangi desanya. Ia suka bermain di sawah, berlarian di antara tanaman padi yang menguning, dan membantu ibunya menyiapkan bekal untuk ayah yang bekerja di ladang.
Suatu hari, Kirana melihat banyak sampah berserakan di sekitar sawah. Botol plastik, bungkus makanan, dan daun-daun kering menumpuk, membuat pemandangan menjadi tidak sedap dipandang. “Aduh, sawah kesayanganku jadi kotor,” gumam Kirana sedih.
Ia lalu menemui Pak Tani, petani yang paling dihormati di desa itu. “Pak Tani, sawah kita jadi kotor sekali. Apa yang harus kita lakukan?” tanya Kirana dengan wajah cemas.
Pak Tani tersenyum bijak. “Benar sekali, Kirana. Sawah yang bersih akan menghasilkan padi yang bagus. Kita harus membersihkannya bersama-sama. Ayo, ajak teman-temanmu!”
Kirana segera berlari mencari teman-temannya. Ia mengajak Budi dan Siti untuk membantu membersihkan sawah. Awalnya, Budi dan Siti merasa malas. “Capek, Kirana! Lebih baik kita bermain saja,” kata Budi.
Namun, Kirana tidak menyerah. Ia menjelaskan, “Teman-teman, jika kita bekerja sama, pekerjaan ini akan lebih cepat selesai. Lagipula, membersihkan sawah adalah cara kita mencintai tanah air kita.”
Mendengar perkataan Kirana, Budi dan Siti akhirnya setuju. Mereka bertiga mulai memungut sampah dengan semangat. Pak Tani juga ikut membantu, memberikan arahan dan semangat kepada anak-anak.
Dengan kerja keras dan gotong royong, sampah-sampah di sawah berhasil dibersihkan. Sawah kembali bersih dan asri. Kirana, Budi, Siti, dan Pak Tani merasa bangga. “Lihat, sawah kita jadi indah lagi!” seru Kirana dengan gembira.
Sejak saat itu, Kirana dan teman-temannya selalu menjaga kebersihan sawah. Mereka belajar bahwa dengan kerja sama, semua pekerjaan berat bisa menjadi ringan, dan cinta terhadap tanah air bisa diwujudkan dengan hal-hal sederhana.
Komentar
Posting Komentar