
Di sebuah hutan bambu yang rindang, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Bambang. Ia dikenal suka sekali bermain, tetapi sayangnya, ia seringkali kesulitan memahami pelajaran dari Kakek Jaya, tetangganya yang bijaksana. Kakek Jaya adalah seorang guru yang sabar, mengajar dengan cerita-cerita tentang alam dan kehidupan.
Suatu hari, Kakek Jaya memberikan tugas kepada Bambang: menghafal cerita tentang asal-usul bambu. Bambang mengernyitkan dahi. “Ceritanya panjang sekali, Kek! Aku tidak bisa,” keluhnya dengan nada lesu. Kakek Jaya tersenyum lembut. “Tidak apa-apa, Bambang. Belajar itu seperti menanam bambu. Butuh waktu dan kesabaran. Jangan menyerah.”
Bambang mencoba menghafal, tetapi pikirannya mudah mengembara. Ia membayangkan bermain dengan teman-temannya, memanjat pohon, dan mengejar kupu-kupu. Setiap kali Kakek Jaya bertanya, Bambang selalu lupa. Ia merasa sedih dan putus asa. “Aku memang bodoh, Kek,” gumamnya.
Kakek Jaya mendekat dan mengelus rambut Bambang. “Bambang, setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Jangan berkata seperti itu. Coba perhatikan sekelilingmu. Lihatlah bambu-bambu ini. Mereka tumbuh bersama, saling mendukung. Begitu juga dengan belajar. Jangan belajar sendirian. Mintalah bantuan teman atau Kakek.”
Bambang mengikuti saran Kakek Jaya. Ia meminta bantuan teman-temannya, Rini dan Dedi, untuk menghafal cerita. Mereka belajar bersama, saling mengingatkan, dan tertawa bersama. Ternyata, belajar menjadi lebih menyenangkan. Bambang mulai memahami cerita tentang bambu, tentang bagaimana bambu tumbuh kuat dan kokoh karena akarnya yang menghujam dalam.
Akhirnya, tiba saatnya Bambang menceritakan kembali cerita kepada Kakek Jaya. Dengan percaya diri, ia menceritakan dengan lancar dan penuh semangat. Kakek Jaya tersenyum bangga. “Bagus sekali, Bambang! Kamu telah membuktikan bahwa dengan kesabaran dan ketekunan, kamu bisa mencapai apa pun. Ingatlah, sopan santun dan tidak mudah menyerah adalah kunci keberhasilan.” Bambang tersenyum lebar. Ia belajar bahwa belajar memang tidak mudah, tetapi dengan usaha dan bantuan orang lain, ia bisa mengatasinya. Sejak saat itu, Bambang menjadi anak yang lebih rajin dan sopan.
Komentar
Posting Komentar